Opini

Penanganan Korban Bullyng yang Harga Dirinya Rendah

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Selasa, 13 November 2018 02:54 WIB · 4 menit baca
Bagikan
Penanganan Korban Bullyng yang Harga Dirinya Rendah
Burhanudin Bin Hasyim

Oleh: Burhanudin Bin Hasyim, Ketua Devisi Hukum dan Pemberdayaan Politik DPD PPNI Buru Selatan

ISTILAH kekerasan di kalangan pelajar, sejak tahun 1970 lebih dikenal dengan istilah bullying. Bullying di sekolah adalah masalah seluruh dunia bukan hanya Indonesia, yang dapat memiliki konsekuensi negatif seumur hidup bagi siswa.

Seorang pelajar dikatakan sebagai korban bullying ketika ia diketahui secara berulang-ulang terkena tindakan negatif oleh satu atau lebih banyak pelajar lain. Tindakan negatif tersebut termasuk melukai, atau mencoba melukai atau membuat korban merasa tidak nyaman.

Tindakan ini dapat dilakukan secara fisik (pemukulan, tendangan, mendorong, mencekik), secara verbal (memanggil dengan nama buruk, mengancam, mengolok-olok, jahil, menyebarkan isu buruk), tindakan lain seperti memasang muka dan melakukan gerakan tubuh yang melecehkan (secara seksual) atau secara terus menerus mengasingkan korban dari kelompoknya.

Sepertinya, setiap pelajar pernah mengalami semua bentuk kekerasan di atas. Ada yang menjadi pelaku, korban atau paling tidak sebagai saksi. Bisa terjadi di sekolah maupun di luar sekolah, di sekolah umum, atau di pesantren. Bahkan, menurut pakar pendidikan, sekolah berasrama lebih rawan dalam hal tindak kekerasan.

Menurut Coloroso (2007) bullying merupakan tindakan intimidasi yang dilakukan pihak yang lebih kuat terhadap pihak yang lebih lemah. Tindakan penindasan ini dapat diartikan sebagai penggunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti seseorang atau kelompok sehingga korban merasa, tertekan, trauma, dan tidak berdaya.

Dalam meta-analisis yang dilakukan oleh Hawker dan Bulton (2008), menemukan hasil bahwa menjadi korban bullying sangat berkaitan dengan depresi, kesepian, harga diri yang rendah, dan bsia berujung pada tindakan bunuh diri. Individu dengan harga diri rendah memiliki rasa kurang percaya diri dalam menilai kemampuan dan atribut-atribut dalam dirinya akibat dari tindakan bullying.

Hal ini membuat individu tidak mampu mengekspresikan diri dalam lingkungan sosialnya. Mereka kurang mampu melawan tekanan untuk menyesuaikan diri dan kurang mampu untuk merasakan stimulus yang mengancam. Individu menarik diri dari orang lain dan memiliki persaan tertekan secara terus menerus. Individu ini merasa inferior, takut atau malu, membeci dirinya, kurang mampu menerima dirinya, dan bersikap patuh atau submissif.

Beberapa penelitian telah dilakukan dalam rangka untuk melihat bagaimana penanganan idividu yang harga dirinya rendah. Penelitian-penelitian tersebut melihat efek dari intervensi terhadap variabel harga diri rendah. Penelitian-penilitan tersebut terbukti memberikan pengaruh terhadap peningkatan harga diri secara signifikan.

Penelitian pertama yang dibahas dalam artikel ini adalah Effects of art therapy on annger and self-esteem in aggressive Children. Penelitian ini dilakukan oleh Ramin alavinezhad, Maso oumeh Mousavi, dan Nadereh Sohrabi pada tahun 2013 di Iran. Pada terapi ini, anak-anak diajak untuk menggambar sesuai dengan suasana hatinya, selanjutnya lukisan-lukisan tersebut dipajang. Penelitian ini terbukti dapat meningkatkan harga diri inidividu yang semula rendah.

Penelitian yang kedua adalah The Effects of Family-Centered Problem-Solving Education on Relapse Rate, Self Efficacy and Self Esteem Among Substance Abusers, yang dilakukan Rahim Habibi dkk pada tahun 2014 di Tehran, Iran. Pada penelitian kedua ini, intervensi yang dilakukan adalah cognitive behavior therapy (CBT), dengan metode pemecahan masalah dengan melibatkan keluarga terdekat.

CBT diarahkan pada modifikasi fungsi berfikir, merasa, dan bertindak dengan menekankan peran otak dalam menganalisa, memutuskan, bertanya, bertindak, dan memutuskan kembali. Dengan merubah status pikiran dan perasaannya melalui pemecahan masalah dengan melibatkan keluarga terdekat, individu diharapkan dapat mengubah tingkah lakunya, dari negatif menjadi positif. Intervensi ini berhasil meningkatkan harga diri individu secara signifikan.

Penelitian ketiga tentang The Effect of Individual Reminiscence Therapy on Self-Esteem and Depression Among Institutionalized Elderly in India, yang dilakukan oleh Catherine Poorneselvan dan Lorraine Steefel pada tahun 2014 di India. Intervensi yang dilakukan adalah menerapkan terapi mendengar dalam upaya meningkatkan harga diri individu.

Pada penelitian ini, individu diberikan stimulan untuk bisa mengungkapkan semua pengalaman mereka terdahulu, baik itu pengalam yang buruk maupun pengalaman yang membahagiakan, selanjutnya individu diarahkan untuk bisa mengungkapkan ideal harapan mereka, kemudian individu diberikan rangsangan menggunakan surat kabar, novel, buku, film, atau insiden lucu agar mereka dapat keluar dari masalah yang mereka hadapi. Terapi mendengarkan pada penelitian ini terbukti dapat meningkatkan harga diri yang rendah.

Itulah beberapa cara penanganan terhadap individu yang harga dirinya rendah, diharapkan para perawat dapat menguasai intervensi-intervensi tersebut, sehingga ketika menangani korban bullying yang harga dirinya rendah, intervensi-intervensi tersebut bisa digunakan. (***)

Bagikan