Perang Buton (Selesai)
Bagikan

Mengenang Kepahlawanan Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi (Oputa yi Ko)
Renungan dalam Peringatan Hari Pahlawan, 10 Nopember 2018
(Bagian II)
La Ode Abdul Munafi, (Antropolog Unidayan)
Kau telah mendharmakan segalanya;
kedudukanmu, dirimu, dan keluargamu,
menjadi martir kedaulatan bangsamu!
PENGGANTIAN Himayatuddin dari jabatan sultan rupanya tidak mengurangi tuntutan yang ditimpakan VOC pada Buton berupa kewajiban menyerahkan 1000 tenaga kerja (budak) selama kurun satu tahun sebagai ganti rugi Kapal Rust en Werk yang dirompak di Teluk Baubau. Sejak Sultan Hamim naik tahta menggantikan Himayatuddin, VOC makin meningkatkan tekanan politiknya pada Buton. Kecuali kewajiban menyerahkan 1000 tenaga kerja (budak), Sultan Hamim juga diharuskan menormalisasi kembali hubungan kerjasama dengan VOC yang ”rusak” selama era pemerintahan Sultan Himayatuddin.
Namun, Sultan Hamim yang berkuasa saat itu, dengan dukungan penuh Himayatuddin, tidak mengindahkan tuntutan VOC. Sultan berpendirian, Buton hanya akan bersedia menormalisasi hubungan kerjasama jika dilandasi prinsip kesamaan kedudukan serta menguntungkan kedua belah pihak. Hubungan kerjasama dengan VOC dipandang tidak membawah kemaslahatan bagi Buton.
Terkait tuntutan ganti-rugi atas Kapal Rust en werk, sultan berpendirian bahwa tragedi tersebut adalah urusan sesama orang Eropa. VOC akhirnya mengultimatum jika tuntutan tidak diindahkan, Buton akan diperangi. Karena sikap Buton yang tidak bergeming, maka pada 19 Pebruari 1755, VOC mengirim ekspedisi perang ke Buton dibawah pimpinan Kapten J.C. Rijsweber. Ekspedisi perang VOC itu dilakukan dengan mengerahkan 8 buah kapal perang yang diberangkatkan dari Bulukumba sejak 19 Agustus 1755. Kapal-kapal tersebut tiba di Buton pada 23 Agustus 1755. Dalam ekspedisi militer itu, VOC mengeluarkan anggaran perang sebesar 108,19½ rijksdaalders (Zuhdi, 2011).
Dalam Koleksi Arsip Makasar, No. 73 Thn. 1755-1756 diperoleh keterangan bahwa VOC lah yang menyebut eskpedisi militernya ke Buton pada 1755 itu sebagai Ekspedisi Perang (oorlog) (Zuhdi, 2011). Keterangan ini berbeda dengan ekspedisi militer VOC disejumlah daerah lain, yang umumnya disebut oproerier (ekspedisi menghadapi perusuh) atau opstander (ekspedisi menghadapi pembrontak). Dokumen VOC ini menarik untuk membandingkan dinamika konflik dan perlawanan daerah-daerah di nusantara terhadap VOC. Dari arsip ini dipahami, ekspedisi militer VOC ke Buton pada 1755 itu
bukanlah ekspedisi memerangi perusuh/pembrontak melainkan memerangi negeri berdaulat secara total dengan menyerang langsung jantung kesultanan. Pada dini hari 24 Pebruari 1755, pasukan VOC menggempur ibu kota Kesultanan Buton, dan meletuslah Perang Buton yang mengenaskan itu. Ketika ibu kota kesultanan jatuh dalam pendudukan militer VOC, Himayatuddin mengkonsolidasi kekuatan rakyat semesta untuk melakukan perlawanan melalui strategi perang gerilya. Rute gerilya pasukan Himayatuddin dalam perang melawan VOC dimulai dari kawasan hutan Wasinabuy, Lakasuba, hingga akhirnya ke Gunung Siontapina (wilayah Lasalimu). Di tempat inilah ia mengobarkan perlawanan terus-menerus pada VOC.
Pada 1759 Sultan Hamim wafat dan diganti Sultan Rafiuddin Malik Sirullah (Sultan Buton ke-22). Upaya VOC menekan Buton untuk menormalisasi hubungan diplomatik di era sultan yang memerintah ±1 tahun ini juga gagal. Buton terus-menerus diperhadapkan dengan ancaman VOC. Maka, atas berbagai pertimbangan, pada 1760 dewan kesultanan memanggil Himayatuddin yang tengah memimpin perlawanan gerilya di belantara Siontapina untuk dilantik kembali menjadi sultan.
Pelantikannya sebagai sultan ke-23 ini didasari pertimbangan karena ia dinilai sangat anti VOC sehingga dapat
menyelamatkan kesultanan dalam kondisi yang penuh ancaman itu. Diperiode keduanya sebagai sultan, Himayatuddin tetap menunjukkan konsistensi menolak segala bentuk intervensi VOC. Tatkala J.C. Rijsweber kembali ke Buton sebagai utusan VOC untuk membicarakan normalisasi hubungan diplomatik, yang disaksikannya justru kesiap-siagaan Buton menghadapi perang. Ia menyaksikan ±5000 tentara kesultanan disiagakan di pesisir pantai Baubau menyambut kedatangan utusan VOC itu (Ligtvoet, 1878). Rijsweber
akhirnya kembali ke Makassar tanpa hasil yang diharapkan VOC.
Setelah stabilitas internal kesultanan berhasil dipulihkan dan intervensi VOC dapat digagalkan selama ±3 tahun masa pemerintahannya diperiode kedua, pada 1730 Himayatuddin diganti Sultan Qaimuddin (sultan ke-24/Oputa Galampa Bhatu). Ia kembali ke Gunung Siontapina. Dari puncak Siontapina itulah, komando perang sang panglima besar itu dikumandangkan ke seantero negeri. Rakyat dimobilisasi sebagai kekuatan angkatan perang. Sejumlah benteng pertahanan juga dibangun guna mengantisipasi terulangnya serangan militer VOC.
Pada usia ±86 tahun, Himayatuddin wafat di puncak Gunung Siontapina. Sepanjang sejarah perlawanannya (±26 tahun), terhitung sejak dilantik menjadi sultan ke-20 (1750) hingga wafatnya (1776), ia tidak pernah tunduk pada VOC. Atas konsistensi perlawanannya terhadap VOC yang menjadikan belantara Siontapina sebagai basis perang gerilya, Himayatuddin memperoleh gelar dari rakyat sebagai ”Oputa yi Ko” (sultan yang bergerilya di hutan).
Nama besarnya yang kini dimonumentalkan menjadi nama sejumlah sarana publik di daerah ini menjadi refleksi penghormatan rakyat Buton akan jasanya melawan penjajah. Sang pejuang besar yang legendaris itu telah lama tiada namun realitas perjuangannya melawan VOC telah mementahkan stigmatisasi sejarah bahwa Buton
adalah Sekutu Abadi Belanda. Stigma inilah yang menyebabkan Buton terabaikan dalam album sejarah nasionalisme Indonesia selama ini.
Sultan Himayatuddin adalah satu di antara deretan tokoh besar di nusantara yang telah menunjukkan peran besar dalam membela harkat dan martabat bangsa dari cengkeraman penjajah. Esensi perjuangannya tentu tidak berbeda dengan perjuangan Diponegoro, Imam Bonjol, Teuku Umar, Sisingamangaraja, Hasanuddin, Patimura, dll.
Bedanya, deretan tokoh yang disebut terakhir telah memperoleh pengakuan negara sebagai Pahlawan Nasional. Jika tolak-ukur Pahlawan Nasional adalah tokoh yang melawan penjajah, apakah Sultan Himayatuddin tidak memenuhi kriteria? Kecuali itu, mungkin ada
baiknya jika di daerah ini didirikan ”Monumen Juang Sultan Himayatuddin” atau ”Monumen Juang Rakyat Buton”. Pemikiran ini relevan dengan upaya kita sebagai bangsa dewasa ini untuk terus memupuk semangat nasionalisme dan patriotisme. (Selesai)