Perputaran Uang dan Produk Unggulan Daerah
Bagikan

PUBLIKSATU.CO - Transaksi bisa terjadi jika ada produk atau jasa (disebut saja produk) yang berpindah kerena “dibeli” pihak lain (konsumen).Kalau suatu daerah penduduknya banyak dan dompetnya tebal dan para warga saling membeli atas produk/jasa diantara mereka, maka bisa jadi cukup transaksi di daerah itu saja, ekonomi tumbuh.
Tapi jika di daerah itu rakyatnya berdompet lusuh dan hanya KTP isinya serta tidak ada produk yang "dicari dunia", maka dipastikan daya beli rakyat disana kecil. Karenanya daerah otonomi baru (DOB) umumnya andalkan uang Pusat sebagai “uang masuk” ke daerah itu (dari DAU/DAK) untuk timbulkan transaksi.
Jika uang dari APBD itu juga dibelanjakan ke produk di luar daerah itu, maka uang itu akan “mengalir” ke luar. Tidak tinggal di daerah itu. Uang beredar tetap sedikit disana.
Tidak aneh, ada pimpinan daerah yang memerintahkan agar pegawainya harus tinggal atau belanja kebutuhannya di daerah itu.
Tujuannya, semata agar menjaga uang tetap berputar di daerah itu. Kebijakan lainnya, dalam pembangunan harus diupayakan menggunakan material dan tenaga dari daerah tesebut.
Uang di daerah itu bisa bertambah, jika ada “uang masuk” ke daerah itu. Dan itu hanya bisa terjadi jika ada produk daerah itu yang diperlukan oleh “pihak luar”.
Atau simulasi lain, orang banyak datang ke daerah itu, baik wisata atau karena hal lain, dan mengkonsumsi banyak produk di daerah itu, maka uang di daerah itu akan bertambah.
Kita ambil misal ada yang “ekspor” ikan, dia akan menerima uang pembayaran. Uang itu sebagian dia belikan kasoami dan kopi. Tukang kopi akan membeli baju dan seterusnya uang beredar di daerah itu.
Dari simulasi di atas, dapat dipahami bahwa satu tugas utama Pemda adalah membangun keunggulan produk daerah. Keunggulan yang memungkinkan satu atau beberapa produk daerah yang bisa dijual “mendunia” (bahasa imaginasi).
Bisa juga bentuknya destinasi wisata yang menjadikan orang datang, tinggal atau menikmati aneka produk dan pengalaman di daerah itu.
Saat ini, Jakarta dan kota besar lainnya, karena tidak ada alam untuk jadi destinasi wisatanya, menawarkan gemerlap kota dan “discount besar-besaran” bagi para ibu-ibu pembelanja. Programnya disebut “MEGA SALE”. Tujuannya agar orang datang membawa uang kesana.
Keunggulan daerah dicipta oleh perencanaan yang terintegrasi. Tidak bisa sepotong sepotong.
Contoh dari simulasi di atas, "ekspor ikan”, maka nelayannya harus dibekali kapal dan alat tangkap yang memungkinkan mereka menangkap ikan yang “dicari pasar”, pelabuhan sandar kapal, lemari es besar, perusahaan daerah yang menampung ikan tangkapan, dan telah ada perjanjian jual beli dengan pembeli.
Satu saja dari rantai di atas tidak ada, maka tujuan keunggulan produk daerah tidak akan terbentuk. Misal tidak ada pelabuhan yang membuat kapal bisa mudah sandar dan bongkar muat. Atau jalan kesana tidak baik.
Disinilah kita memahami peran infrastuktur bagi ekonomi daerah.
Begitu juga wisata, disamping merancang lokasi wisata, perlu dirancang, penginapan, tempat makan, restaurant, transportasi, tour guide dan aneka acara dan pengalaman yang memungkinkan mereka membawa pulang cerita yang menyenangkan dan punya foto-foto yang bisa segera dipamerkan kepada teman-temannya lewat medsos.
Satu saja dari rantai di atas tidak ada, maka pengembangan destinasi wisata (ramai dikunjungi) tidak akan dicapai. Misal ternyata masyarakatnya susah senyum dan enggan tegur sapa, maka upaya wisata tersebut bisa gagal juga.
Apalagi pulang dari lokasi tersebut harus baring pijit dua hari, akibat jalannya jelek sekali. "Ee ta matemo sii ....", senyum sindir tamu itu.
Memang ini tidak mudah. Saya juga belum tentu bisa. Perlu melibatkan kecerdasan dan kerja kolektif dalam perencanaan, cerdas anggaran dan kapasitas pelaksana lapangan yang kompeten. Karenanya, pembangunan SDM daerah itu sangat penting.
Perlu juga dicatat, keunggulan kita komparatif harus lebih baik dengan daerah lain. Sehebat apapun capaian kita, jika daerah lain lebih cepat mencipta keunggulan itu, maka kita akan tetap tertinggal. Ingat hp “sejuta umat” Nokia, hilang tak berbekas oleh datangnya Samsung. Blackberry, televisi merek SONY juga demikian lenyap juga, kalah oleh produk baru.
Intinya, penting Pemda Daerah untuk memperbesar kue ekonomi daerah. Ekonomi rakyat diluar APBD. Seperti menjadikan pion (ekonomi rakyat) menjadi menteri (pemain utama ekonomi daerah), dalam permainan catur.
Dengan berjalannya tahun, peran APBD dalam total transaksi dibuat makin mengecil, karena rakyat telah menjadi penggerak pada bidang-bidang ekonomi. PAD akan meningkat.
Satunya tekad dan arah tujuan antara pemda, dewan, kepala desa dan rakyat pada umumnya, adalah syarat cita-cita ini dicapai. Tentu disertai doa-doa dari para Parabela, ustadz dan mancuana.
Lewat kesatuan hati, Allah SWT akan cerdaskan pikiran dan bukakan jalan yang tadinya tidak terlihat.
Kue ekonomi yang besar, akan mendorong para pemuda lebih tertarik kepada usaha dan bisnis. Mungkin sedikit saja yang tertarik kepada politik. Apalagi sumpah adat sudah diberlakukan sejak jadi Calon dalam proses politik.
Apa jadinya jika hal di atas tidak dicapai? Maka pilkada belum lama, rakyat sudah rindu segera ada pilkada lagi. Pilkada jadi "obat penenang", barangkali saja (setelah pilkada lagi) akan ada perubahan.
Semoga tulisan ini mendorong kita berpikir. Terima kasih.
Kabarakatina tana wolio.
Jakarta, 23 Agustus 2019
Ir. La Ode Budi