Wisata Religi Masjid Tua Wawoangi
Bagikan

MASJID tua Wawoangi merupakan salah satu fakta bukti sejarah masuknya siar islam di pulau Buton. Masjid dengan model klasik zaman tempo dulu menjadi saksi fakta sejarah masuknya peradaban islam di tanah Buton.
Nusman-BUTON SELATAN
Konon masjid ini merupakan yang pertama berdiri di pulau Buton sejak pertama kali Syekh Abdul Wahid membawa syiar islam di tanah Buton. Masyarakat sekitar meyakini masjid ini sangat berkat (Kabarakati Masigi Wawoangi) dan menyimpan cerita mitos hingga mistik. Waulahu alam.
Untuk menuju desa Wawoangi, Kecamatan Sampolawa sekitar 1 jam dari Kota Baubau. Setengah jam dari ibukota Kabupaten Buton Selatan Batauga. Desa ini melalui dana desa mengembangkan pariwisata dan wisata budaya dan religi.
Masjid tua itu terletak diatas bukit di Desa Wawoangi, Kecamatan Sampolawa, Kabupaten Buton Selatan. Untuk menempuh masjid tua ini dari ibukota Batauga bisa menggunakan kendaraan roda dua atau empat.
Dari pemukiman warga dusun Laguali, Desa Wawoangi untuk menempuh masjid yang diyakini "barakati" ditempuh lagi sekitar tiga kilo meter. Jalanya pun sudah mulus teraspal.
Sarana jalannya pun sudah bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun empat.
Disepanjang jalan ada kawasan pertanian umbi-umbian dan pisang serta pertanian jangka panjang masyarakat. Pemandangan laut wilayah selatan pulau Buton terlihat jelas dari pulau Batuatas dan perairan laut banda nampak jelas terlihat.
Dari masjid tua itu pemandangan hampir seluruh wilayah desa di Sampolawa dapat dilihat dari bukit Wawoangi. Dari sisi kiri masjid kita dapat menyaksikan pemukiman warga Kelurahan Katilombu, Jayabakti dan sekitarnya. Tampak jelas pula Desa Tira sejumlah kapal Boti alias Phinisi tampak jelas berjejer terpakir menghiasi bibir perairan Desa Tira.
Tampak jelas juga pasir putih menghiasi mata keelokan pantai Lagundi Desa Bahari.
Tampak dari depan lautan bebas laut Flores, sisi bagian selatan jika cuaca mendukung terlihat pula pulau Batuatas. Diatas bukit itu pula tampak jelas barisan rumah warga Desa Bahari, pasir putih disepanjang desa tersebut menghiasi pandangan mata. Begitupun lautan lepas laut Banda. Dibagian barat tampak jelas benteng yang hingga kini belum digarap potensi wisatanya dinas terkait.
Masjid tua ini jauh dari kebisingan kendaraan, maupun pemukiman warga. Untuk menunaikan sholat pun dijamin khusu. Kerap tiap malam jumat masyarakat wilayah sekitar menunaikan ritual ibadah menghadap kepada sang khalik, sang pencipta alam semesta. Allah SWT.
Masjid kokoh berdiri diatas bukit, kesejukan alamnya, kerindangan pepohonan, menambah keheningan bila menunaikan ibadah. Angin sepoi-sepoi bertiup dari segala penjuru, udara yang masih segar alami menambah khusunya para jamaah yang ingin beribadah di masjid tua.
Di paling depan pintu masuk masjid tua ada makam yang diyakni Sultan Buton ke 7 La Ode Saparigau atau yang dikenal Syarifuddin Jamal. Selain itu juga ada makam La Ode Gafari (Sangia Rauro ayah Sultan Buton ke 7, red). Dua makan tersebut berada tepat didepan dipintu utama masjid tertua tersebut. Diatas kuburan ini ditumbuhi cempaka.
Salah seorang tokoh masyarakat Wawoangi La Ode Strimah mengisahkan, pertama kali masjid tua Wawoangi didirikan Sekh Abdul Wahid diperkirakan tahun 1627. Kata dia, kala itu menurut sejumlah riwayat yang diketahuinya disebutkan islam pertama masuk di Buton di wilayah perairan Burangasi, Kecamatan Lapandewa. Usai mendarat dan menginjakan kakinya pertama kali di selatan pulau Buton itu bergerak menuju Wawoangi.
Setelah menginjakan kakinya pertama dan menyerukan islam kepada masyarakat lokal di Burangasi Syekh Abdul Wahid konon diilhami dan melihat pancaran sinar terang di wilayah tempat berdirinya masjid tua itu. Masjid ini menjadi pusat pengkajian Islam di Wawoangi.
Dari Burangasi kemudian bergerak menuju gunung tempat berdirinya masjid tua Wawoangi. Usai didirikan menjadi pertama kali menyiarkan islam diwilayah tersebut. Masyarakat sekitar kemudian diajarkan islam. Yang tadinya konon masih menganut agama Budha.
Seiring perkembangan zaman pada tahun tahun 1967 saat zaman geopolitik faham PKI masuk wilayah tersebut, kala itu terjadi kerusuhan sosial politik di Sampolawa dan sekitarnya. Masjid tua itu rusak total, ratah dengan tanah hanya tersisahkan beberapa puing.
La Ode Strima mengisahkan pula pada tahun 1973 masyarakat wilayah Wawoangi (Kangkele-Ndauli). Kini ada tiga Desa Wawoangi, Watiginanda dan Bangun tersebut berembuk untuk rencana dibangun kembali masjid tersebut.
Pada tahun 1989 dilakukan pembersihan lokasi pembangunan masjid tua itu, pada tahun 2000 masjid tua tersebut kembali didirikan dengan dilakukan
pemugaran dengan tidak merubah bentuk keasliannya.
"Dananya pertama kita dari dana swadaya masyarakat kita kumpul-kumpul, pemugaran masjid ini kita tidak lakukan perubahan bentuk, tinggi, bentuknya rangkanya tidak dilakukan perubahan, tapi setelah berkembangnya zaman dibuatkanlah tehel ini, dulunya ini lantainya kerikil," kata La Ode Strimah yang juga pensiunan pegawai kejaksaan Baubau ini.
Dengan tidak merubah keaslian bentuk masjid tua yang sakral ini, Masjid tua ini berdindingkan bambu yang diikat dengan tali ijuk. Atapnya tersusun rapi terbuat dari belahan papan kayu jati. Tiang utama penyangga terbuat dari jati. Didepan pintu utama masjid ada tulisan Arab kuno. Dibeberapa bagian juga ada tulisan lafadz Arab kuno.
"Tiang utamanya itu masih ada tinggal tiang utama yang tersisa pasca kerusuhan zaman PKI dulu," katanya.
Masyarakat setempat meyakini masjid tua ini sangat sakral dan menyimpan cerita mitos. Masjid tua ini berdiri diatas bukit, kala itu komandang azan tiap sholat di masjid tua ini terdengar jelas hampir diseluruh wilayah kadie Wawoangi. "Dulu adzannya belum ada mike. Jadi bunyi gendang dan adzan kedengaran diwilayah Wawoangi," katanya.
Menurut Strimah, pada saat itu wilayah tersebut belum ada listrik, sehingga untuk adzan pertanda ajakan kaum muslimin sholat tidak menggunakan pengeras suara hanya menggunakan suara alami manusia. Begitupun juga dengan bunyi gendang yang dipukul moji hampir terdengar diwilayah tersebut.
Disebelah kanan bawah bagian pintu utama masjid terdapat lubang yang bertuliskan huruf lafazd arab kuno. Disebutkan sejumlah peneliti dibawah pintu utama terdapat lafads tulisan gundul arab yang merupakan sisa bukti sejarah masjid tua Wawoangi.
Dibagian depan pintu utama masjid terdapat makam Sultan Buton ke 7 La Ode Saparigau atau yang dikenal Syarifudin Jamal. Terdapat pula makam La
Ode Gafari (Sangia Rauro) ayah Sultan Buton ke 7. Dan beberapa makam lainya keluarga sahabat, prajurit pengawal sultan.
Dari pemukiman warga Laguali Desa Wawoangi diperkirakan jarak menuju masjid tua sekitar tiga kilo. La Ode Strimah berharap, masjid tua tersebut dapat dijadikan sebagai aset bersejarah Kabupaten Busel. Sehingga bisa dijadikan wisata budaya religi.
Sejumlah foto dokumen pemugaran kembali masjid tua itu masih tersimpan rapi di kediaman La Ode Strimah. Untuk air bersih juga sudah ada disekitaran halaman masjid. Tak jauh dari masjid juga sudah didirikan baruga.
Ia menambahkan untuk menuju masjid masyarakat sekitar meyakini tak bisa berkata heran. Konon salah satu bagian potongan pukulan gendang terbagi tiga. Satu bagian ada di Masjid Ternate, sepotong di Masjid Wawoangi dan sespotongnya lagi ada di Masjid Keraton.
Semoga masjid tua ini bisa menjadi aset dan potensi budaya religi serta nilai-nilai keislaman tetap dipertahankan tidak tergerus perkembangan zaman. (***)