Berita Terkini
Buton

Tenunan Buton Pernah Terbaik Dua Tingkat Provinsi Sultra, Disperin Tingkatkan Inovasi Baru

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Rabu, 28 Agustus 2019 00:42 WIB · 2 menit baca
Tenunan Buton Pernah Terbaik Dua Tingkat Provinsi Sultra, Disperin Tingkatkan Inovasi Baru
Para Tusris dari berbagai negara menjajal kampung tenun Desa Wabula

PUBLIKSATU, BUTON - Desain motif pewarna alam Tenunan Buton yang ada di Kecamatan Wabula, Kabupaten Buton rupanya pernah dinobatkan sebagai terbaik dua pada lomba desain motif di tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara.

"Dan baru-baru kita punya desain motif pewarna alam itu juara dua di tingkat provinsi untuk desain motif di Sulawesi Tenggara," ujar Kepala Dinas Perindustrian Kabupaten Buton, Sadisu kepada wartawan belum lama ini.

Sadisu menjelaskan saat ini pemerintah terus berinovasi untuk meningkatkan kualitas dan motif tenunan Buton agar bisa bersaing di pasaran maupun dalam bentuk pameran dan lomba. Peningkatan itu misalnya, dari sisi kualitas dan desain motif bahan maupun dari segi harga jual produk.

Ia menyebutkan salah satu inovasi ini, yakni melalui inovasi pewarna alam. Kata dia saat ini tercatat ada dua puluhan hasil karya pewarna alam dari berbagai tanaman yang telah diciptakan.

Selain itu, Sadisu menjelaskan sebagai pengrajin tenun, Kecamatan Wabula bakal dibuatkan sentra tenun di Kabupaten Buton, Wabula sendiri sudah menjadi Kampung Tenun.

"Jadi sebenarnya sudah ada galeri kita siapkan. Jadi mereka sudah titip sampel di situ untuk kalau ada tamu-tamu seperti ini harapan kita langsung ke sana, tapi galerinya masih sementara dalam penyempurnaan," ujarnya.

Sadisu mengaku, pemerintah selalu memberikan intervensi demi berkembangnya tenunan Buton. Misalnya saja, pihaknya selalu melakukan perbaikan kualitas, memberikan pelatihan kepada penggiat setiap tahunnya.

"Dalam hal pemasaran ya itu, kita intervensinya memperkenalkan setiap kali ada pameran kita selalu ikutkan," ujarnya.

Tidak hanya itu, Ia menjelaskan untuk memproduksi satu bahan tenunan, para penggiat biasa menghabiskan waktu hingga dua hari. Tiap satu lembar tenunan dibandrol dengan harga jual Rp 250 ribu.

Untuk mempertahankan kearifan lokal di sektor kerajinan tenun, Sadisu mengharapkan kaum milenial dapat melihat peluang di bidang ini. Apa lagi, tenun ini merupakan salah satu warisan leluhur Buton yang patut untuk dilestarikan.

"Kalau yang itu dari anak-anak kita belum sampai ke sana, kita baru munculkan inovasi baru seperti pewarna alam itu. Mudah-mudahan generasi milenial sekarang bisa melihat, membuka mata bahwa tenunan ini rupanya jangan kita tinggalkan," harapnya.(Mo1)