MTs Al-Ikhsan Lombe Prakarya di Hidroponik Andy Nursin
Bagikan

PUBLIKSATU, BUTON TENGAH - Sistem pertanian hidroponik yang terus diperkenalkan dan disosialisasikan Sekretaris Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Buton Tengah (Buteng) Drs Andy Nursin MSi pada media sosial, semakin dikenal saja. Berbagai kalangan, komunitas, hingga para pelajar dari Buteng maupun daerah sekitar terus berdatangan belajar kepada pria yang hobi bertani dan beternak itu.
Sabtu (12/10), giliran siswa-siswi MTs Al-Ikhsan Lombe datang belajar di Green House Hidroponik Dinsos Buteng yang dijadikan percontohan Andy Nursin selama ini. Mereka diperkenalkan bagaimana sistim bertani milenial tanpa menggunakan tanah, tanpa cabut rumput, tanpa penyiraman pagi sore, tanpa pestisida, dan tanpa mengenal musim.
Salah satu yang menarik perhatian para siswa adalah sistim hidroponik rakit apung dengan jenis tanaman daun bawang. Hidroponik rakit apung tersebut berukuran 1x24 meter gabus dengan 124 lobang yang menjadi media tanam daun bawang tersebut.
Para siswa semakin tertarik setelah mengetahui hitung-hitungan dari rakit apung kecil tersebut yang bisa menghasilkan uang. Dalam 10 lobang tanam, rupanya bisa menghasilakn satu kilogram daun bawang dengan harga pasar Rp 30 ribu. Bagaimana misalnya rakit apung tersebut terdapat 500 sampai 1.000 lobang tanam, berapa kilogram daun bawang yang bisa menghasilkan uang.
"Saya akan minta orang tuaku untuk membuatkan hidroponik rakit apung seperti ini di rumah. Setelah saya mendengarkan penjelasan dari bapak tadi (Andy Nursin, red), ternyata bertani itu tidak sulit seperti yang saya bayangkan selama ini harus pergi jauh-jauh ke kebun," tutur Aldi, siswa kelas 8 MTs Al-Ikhsan Lombe usai mengikuti Prakarya.
Guru pembimbing MTs Al-Ikhsan Lombe, Susi Trisno, menerangkan di sekolahnya menerapkan mata pelajaran Prakarya dengan materi budidaya tanaman sayur dan budidaya ikan lele. "Siswa diharapkan tidak hanya tahu teorinya saja, tetapi bisa mempraktekannya langsung di lapangan. Sehingga belajar yang tepat di lapangan adalah dengan mendatangi Green House Hiroponik Pak Andy Nursin," terangnya kepada media ini.
Menurut Susi, belajar melihat dan mempraktekan langsung ke lapangan lebih mudah dicerna dan dipahami siswa. Sekaligus menghilangkan kebosanan siswa yang setiap hari belajar di kelas. "Di tempat Pak Andy ini sangat cocok untuk memotivasi para siswa menjadi petani milenial dan hebat, karena inovasi yang ditawarkan sangat praktis dan mudah," pungkasnya.
Di tempat yang sama, Andy Nursin mengaku senang dikunjungi para siswa untuk belajar langsung tentang sistim pertanian hidroponik bertanam sayur mayur. Dirinya siap berbagi ilmu dan pengalaman kepada siapa saja yang ingin maju di bidang pertanian.
"Alhamdulillah, apa yang saya lakukan selama ini sebagai hobi dan selalu memotivasi masyarakat untuk bertani dengan sistim hidroponik, telah menjadi rujukan dari berbagai kalangan untuk datang belajar dan berbagi pengalaman. Bukan hanya dari Buteng saja, tetapi dari daerah-daerah sekitarnya sudah pernah datang ke tempat kami ini," bebernya.
Sejauh ini, bukan hanya bertani dengan sistim hidroponik saja yang dijalaninya hingga menjadi program dari sebagian besar desa-desa di Buteng, tetapi beternak juga. Mulai dari budidaya ikan lele, beternak ayam kampung jumbo, bebek, hingga beternak burung puyuh.
"Alhamdulillah, sudah banyak masyarakat desa-desa di Buteng menerapkannya. Ini memberikan kebahagian dan kepuasan tersendiri dalam memberikan peran kepada pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan. Sebelumnya tak pinya kerja dan penghasilan, sekarang punya kegiatan rutinitas yang mudah dan praktis, namun menghasilkan pundi-pundi uang yang cukup," tutup Andy Nursin.(uzi)