Ritual Picundupia Awali Pembukaan Pesta Adat di Buton, Gubernur Ali Mazi Serukan Pelestarian Budaya

PUBLIKSATU, BUTON-Syara adat Takimpo, Kambula-Bulana dan Pasarwajo resmi melaksanakan pesta kampung 2019. Pembukaan pesta ini diawali dengan prosesi Picundupia di pantai Wajo, Kelurahan Pasarwajo, Kabupaten Buton, Minggu (1/12/2019).
Acara adat ini dihadiri langsung Guburnur Sulawesi Tenggara, Ali Mazi. Dalam kesempatannya, ia sangat mengapresiasi ritual ini. Untuk itu ia menghimbau agar pemerintah melakukan perbaikan dan penyediaan sarana yang disediakan untuk prosesi ritual adat sehingga terlihat sakral dan terpelihara.
”Saya himbau kepada Pemda perlu dilakukan perbaikan, rehab tempat pelaksanaanya sehingga dalam pelaksanaannya terlihat lebih sakral karena ini adat dan budaya yang betul-betul harus terpelihara,”ujarnya.
Tidak hanya itu, dalam kesempatan ini juga ia meminta kepala Dinas Pendidikan Provinsi agar membuat kegiatan agar ritual tersebut menjadi ikon budaya yang ada di Kabupaten Buton.
“Kembangkan sehingga jadi ikon kabupaten Buton, ini tradisi yang ditinggalkan leluhur jadi potensi yang sangat luar biasa, Kedepan nanti ini jadi ikon kabupaten Buton,” ujarnya.
Untuk diketahui prosesi Picundupia merupakan sebuah ritual untuk mengenang keajaiban yang pernah terjadi teluk Pasarwajo.
Masyarakat adat tersebut percaya, konon dahulu telah terjadi sebuah keajaiban didaerah setempat, dimana sebuah kapal layar tiba-tiba muncul menyusur menuju daratan teluk Pasarwajo.
Di perjalanan menuju daratan, penampakan kapal terlihat mengalami beberapa perubahan. Dari kejauhan terlihat bagaikan perahu pinisi, kian mendakat terlihat seperti perahu lambo, di pesisir pantai menjadi sebuah perahu sampan. Menepi tepat di gua Wajo atau Bolonco, sampan itu konon menjadi pelepah pisang, masyatakat setempat menyebutnya Kocibho.
Seketika itu pula, terdengar isak tangis bayi. Wa Mbeke menjadi orang pertama mendengar tangisan itu. Ia lanyas mencari sumber suara. Benar saja bayi mungil terdapat dilubang batu baru saja dilahirkan. Ia merawatnya, plasenta bayi ditanam di areal pantai wajo.
Seperti bayi pada umumnya, anak itu tak luput dari tangisan. Hanya saja kala itu tangisan anak tersebut tak kunjung rendah. Sebagai ibu asuh, berbagai cara dilakukan untuk menenangkannya, upaya hanya sia-sia tak membuahkan hasil.
Seketika, terlintas dibenak Wa Mbeka menyusuri teluk bersama dengan harapan sang bayi berhenti menangis.
Dengan berperahu sembari melantunkan lagu Kabanti menyusuri teluk Pasarwajo. Sejumlah kajadian aneh terjadi dengan muncul penyu menorong perahu Wa Mbeka. Ide ini membuahkan hasil, anak itu kemudian berhenti menangis.
Pemberian nama dengan sebutan Salim itu digelar dengan sebuah ritual Picundupia dimana pemberian nama itu dibarengi dengan pemotongan sepasang ayam. Dara ayam yang dilarutkan bersama air Lacibhabu yang bersumber dari mata air Lapodi dan air wajo serta tanah ditempat tersebut kemudian dioleskan pada jidat Salim kala itu.
Konon, dalam Picundupia itu, Salim yang berusia empat tahun tiba-tiba saja menghilang dengan mewariskan Picundupia.
Nah, implementasi dari ritual tersebut, prosesi ritual kali ini di oleslan pada jidat bayi yang menghari prosesi Picundupia. (Cro2)