Pemkab Buton Gagas Event Festival Ritual Siotapina
Bagikan

PUBLIKSATU, BUTON - Pemerintah Kabupaten Buton melalui Dinas Kebudayaan mulai mencanangkan event lain selain festival Budaya Tua Buton. Nantinya, festival di Siotapina itu sejalan dengan program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) yang menyediakan platform yang bertajuk 'Indonesiana' sebagai wadah pendukung kegiatan seni budaya di Indonesia.
"Mungkin ada event tambahan misalnya festival Siotapina. Atau festival puncak gunung Siotapina, atau festival ritual Siotapiana. Itu dari dirjen kebudayaan memberi singnal untuk itu," ujar kadis Kubudayaan Buton, La Ode Samsuddin saat pertemuan bersama sejumlah sanggar di dive centre dinas pariwisata Buton beberpa waktu lalu.
Menurut Samsuddin, selain Budaya tua suda sepatutnya di gagas festival lain. Sebab, event budaya tua terbilang telah lama digelar dan suda menjadi event tahunan.
"kita punya iven yang bertajuk festival budaya tua dan menurutkan kami itu umur suda cukup tua. Tentu itu penyelenggaraan eventven suda tujuh tahun kedepan ini suda memasuki tahun kedelapan," ujarnya.
Tidak hanya itu, Ia menjelaskan untuk melancarkan event budaya itu, diharapkan partisipasi dan peran aktif dari komunitas budaya. "Oleh karena itu dari awal sebelum penyelenggaraan iven ini kita bermaksud menghimpun berbagai masukan untuk komunitas-komunitas seni budaya sehingga kemudian partisipasinya itu tidak hanya dalam bentuk saran atau masukan tapi juga peran aktifnya," katanya.
Lanjut, ia menjelaskan berkaca di event Budaya tua, ia menyebutkan tantangan yang dihadapi pemerintah sangat banyak baik dari Publik maupun dari segi kualitas.
"Tapi tantangan kita di publikkan banyak sekali event kita inikan dipublik jadi menghambur-hambur," ujarnya.
"Padahal di tempat lain itu iven itu dia satu tahun itu dia kalender event itu sampai sepuluh," imbuhnya.
Lebih lanjut, Ia mengharapkan Kabupaten juga memiliki banyak event seperti daerah lain. "Misalnya, kalau kaya kita ini kita mulai dari kande-kandea misalnya. Lalu kemudian festival budaya tua ikonnya itu tarian kolosal. Lalu festival hutan Lambusango bulan berapa bulan berapa. Lalu ritual puncak gunung siotapina," ujarnya.
Sementara itu, ditempat yang sama, Plt Kadis Pariwisata, Rusdi Nudi mengaku sepakat dengan festival di gunung siotapina."Terkait tadi festival gunung siotapina itu saya kira itu sepakat nanti masukknya di perubahan," ujarnya.
Lanjut, ia menjelaskan dalam rangka mensukseskan event budaya juga partisipasi sanggar seni dan budaya diperlukan. Olehnya itu ia mengharapkan setiap komunitas memiliki legalitas setiap organisasi budaya.
"Pertama tentang iven kita festival budaya tua kalau misalnya kita sanggar itu yang pertama jangan kita lupa juga saling berproses aspek legalitas," ujarnya.
Selain itu, ia mengharapkan sanggar sanggar yang ada di Buton tidak hanya sebatas didirikan kemudian tidak berjalan. Harus ada kegiatan sanggar yang nampak.
Selain itu, ia juga menjelaskan sanggar juga harus memiliki ciri khas tersendiri yang menjadi pembeda dengan sanggar lain.
"Kalau berbica sanggar atau kelompok apa saja kita harus berpikir kita harus kuat di tema. Antara sanggar satu sampai sanggar sepuluh misalnya semua belajar tari linda itu kita tidak kuat di tema," ujarnya
"Tapi ada identitas kita disanggar kita bahwa kita pilih silat. Ketika orang berbicara silat kita tercirikan, sanggar ini. Perkuat di sanggar itu ada satu yang kita angkat. Jadi kita disanggar itu memiliki narasi yang kuat misalnya kita memuat terkait sejarah apa," imbuhnya. (Cro2)