Musim Hujan, Dinkes Buton Selatan Antisipasi Penyakit DBD dan Diare
Bagikan

PUBLIKSATU, BATAUGA - Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dan diare menjadi momok menakutkan memasuki musim penghujan ini. Olehnya itu masyarakat diminta untuk menerapkan pola hidup sehat serta selalu menjaga kebersihan lingkungan.
Di musim penghujan, hampir seluruh daerah di Indonesia dan bahkan dunia sering terjangkit penyakit yang penularannya dari lalat dan nyamuk ini. Sama halnya juga dengan di Kabupaten Buton Selatan (Busel), Sulawesi Tenggara.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buton Selatan, La Ode Budiman mengatakan, untuk mengantisipasi penyakit diare pihaknya selalu intens melakukan penyuluhan. Pihaknya juga sudah menyiapkan stok obat untuk penyakit tersebut.
"Kita punya stok obat untuk kasus diare itu di gudang farmasi masih ada, kebutuhan stok kami sampai satu tahun. Penyuluhan kami lakukan, kami galakkan itu dengan konsep Gerakan Masyarakat Sehat (Germas), di setiap puskemas sudah ada penyuluhnya," kata La Ode Budiman kepada wartawan di Rujab Bupati Busel beberapa waktu lalu.
Lanjut ia mengatakan, kasus diare di Buton Selatan hampir setiap tahun selalu terjadi. Namun peningkatan kasusnya tidak sampai pada Kejadian luar biasa (KLB) atau dua kali lebih besar.
"Pada prinsipnya kalau kita berbicara wabah, kita lihat dulu pola setiap tahunnya. Kalau kasus itu selalu ada kurun waktu tertentu dia masih endemik. Jadi, kasusnya cenderung selalu ada. Kalau wabah atau KLB dia ada peningkatan kasus dua kali lebih besar," jelasnya.
Musim penghujan ini selain diare, pihaknya juga mengantisipasi penularan penyakit DBD. Jika terjadi kasus tersebut pihaknya telah menyiapkan alat pengasapan pengendalian serangga (fogging) dan langsung melakukan pengobatan kepada pasien.
"Jika ada kasus DBD maka akan dilakukan fogging dan langsung pengobatan pada pasien," tukasnya.
Untuk diketahui, penyakit demam berdarah disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua nyamuk dapat menggigit di pagi hari sampai sore menjelang petang.
Penularan terjadi saat nyamuk menggigit dan menghisap darah seseorang yang sudah terinfeksi virus dengue, ketika nyamuk tersebut mengigit orang lain, maka virus akan tersebar. Hal tersebut terjadi karena nyamuk berperan sebagai medium pembawa (carrier) virus dengue tersebut.
Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat, ada sebanyak 110.921 kasus DBD di Indonesia pada Januari hingga 31 Oktober 2019. Jumlah ini meningkat cukup drastis dari tahun 2018 dengan jumlah kasus berada pada angka 65.602 kasus.
Data tersebut merincikan, DBD di Sulawesi Tenggara sebanyak 1.400 kasus. Sultra masuk zona hijau bersama 12 daerah lainnya di Indonesia. (sim)