Muhasabah Nasib Kredit "Macet" di Tengah Pandemi Covid-19
Bagikan

Oleh: Syaifullah Sanggala
(Pascasarjana Ilmu Ekonomi UHO)
PUBLIKSATU, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengumumkan tambahan alokasi belanja dan pembiayaan dalam APBN 2020 sebesar Rp 405,1 triliun. Dari jumlah tersebut, sebesar Rp150 triliun disalurkan untuk program pemulihan ekonomi nasional, termasuk restrukturisasi kredit dan pembiayaan UMKM. (CNN Indonesia, 01/04/2020)
Nasib Kredit Macet di Indonesia tentu saja menjadi salah satu hal yang penting untuk diperhatikan mengingat salah satu sendi fokus pembangunan ekonomi yang diyakini dapat merangsang ekonomi suatu negara melalui pembiayaan atau penyaluran kredit kepada seluruh lapisan masyarakat. Tidak heran untuk urusan inipun negara mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2016 tentang Inklusi Keuangan.
Inklusi keuangan adalah sebuah program perluasan akses keuangan bagi seluruh lapisan masyarakat termasuk "kemudahan" dalam pengajuan kredit agar semua orang dari berbagai kalangan dapat mengakses jasa keuangan termasuk dari kalangan ekonomi "sederhana".
Di Indonesia, kelompok masyarakat yang diprioritaskan untuk mendapat akses keuangan antara lain masyarakat berpenghasilan rendah (dalam hal ini MBR atau keluarga prasejahtera), pelaku UMKM, pekerja migran, wanita, disabilitas, anak terlantar, lansia, penduduk daerah tertinggal, serta pelajar dan pemuda. Artinya secara substansial orang yang sebenarnya tidak layak untuk mendapatkan kredit pun seolah "dipaksa" dengan rayuan bunga rendah.
Walhasil ketika terjadi pandemi seperti saat ini nasib debitur kalangan inklusi pun seolah gigit jari memikirkan cara melunasi hutang ataupun cicilannya ke perusahaan jasa keuangan atau bank. Adapun, secara akumulatif sejak 2015 hingga Oktober 2019, KUR sudah tersalurkan kepada 18,3 juta debitur (Kontan, 19/12/2020).
Pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun turun tangan dengan memberikan opsi restrukturisasi kredit, kepada bank dan industri keuangan lainnya untuk mengantisipasi membengkaknya kredit macet dengan menggelontorkan anggaran yang tidak sedikit.