Pemerintah Diminta Lestarikan Situs Budaya
Bagikan

PUBLIKSATU, KENDARI - Dewan Adat Kerajaan Laiwoi Kendari meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari dan Provinsi Sultra melestarikan situs budaya yang ada di Sultra, karena budaya merupakan indentitas diri suatu daerah.
Ketua Dewan Adat Kerajaan Laiwoi Kendari, Endri Irwan TKK Saosao mengatakan, hingga saat ini peninggalan situs sejarah yang ada di Kota Kendari tidak dilestarikan atau dijaga, serta dimanfaatkan dengan baik, sesuai amanah negara.
Lanjutnya, salah satu contohnya, yakni bangunan kontroler yang ada di kawasan Kecamatan Kendari Barat. Saat ini, bangunan tersebut yang merupakan peninggalan Hindia Belanda kini direnovasi sehingga menghilangkan nilai sejarah. Tidak hanya itu, senjata meriam yang ada di kawasan bangunan tersebut saat ini terbengkalai.
"Bangunan ini sedang direhab dimana didalamnya, terdapat peninggalan yang merupakan meriam kuno dan tak bertuan. Kalau kita tidak jaga, dan segera diselamatkan, mungkin sudah ada di tempat besi tua, padahal nilainya sangat tinggi," jelasnya.
Ia memastikan, model meriam tersebut, sama persis dengan meriam yang ada di Keraton Buton. Karena secara histori, Buton dengan Kendari hanya terpisah secara kewilayahan. Namun sama-sama menjadi kota kolonial pada beberapa abad lalu.
"Berdasarkan histori atau sejarahnya, kota lama atau kota tua tidak bisa disepelekan, karena jelas keberadaannya, baik sebagai kota tradisional atau zaman kolonial, kemerdekaan, hingga saat ini. Banyak peninggalan sejarah yang dimiliki Kota Kendari, seharusnya dipertahankan sebaik
mungkin, baik dari segi bentuk dan karakternya. Seperti yang terjadi di daerah lain, diantaranya di Kota Baubau, Makassar, dan Semarang," tandasnya.
Ia menerangkan, untuk peninggalan sejarah yang ada harus dipertahankan bentuk dan nilainya. Namun yang terjadi, saat ini di Kota Kendari, seperti tidak ada kepedulian akan hal itu. Serta pemerintah tidak serius untuk melestarikannya, sehingga bangunan itu, bisa terubah secara total. Apalagi meriam yang lama zaman kolonial seolah tidak ada perhatian untuk menjaga serta melestarikannya.