Kemerdekaan Politik Negeri Khalifatul Khamis
Bagikan

Oleh: Dr Muh. Sjaiful, SH. MH.
(Dosen Pascasarjana Universitas Halu Oleo)
Beberapa waktu lalu telah diluncurkan sebuah buku yang bertajuk “Negeri Khalifatul Khamis”. Buku ini mengkisahkan tentang jejak sejarah Kesultanan Buton di nusantara serta sumbangsih peradaban Islam membangun Wilayah Kesultanan Buton, sehingga memiliki armada maritim terkuat yang sangat ditakuti oleh Bangsa Kolonial Portugis dan Belanda saat itu. Salah satu penulis buku ini adalah putra Indonesia berdarah Buton, Irwansyah Amunu.
Ketika buku ini dibedah melalui webiner secara nasional, beberapa hari lalu, respon para peserta webiner sangat positif. Bahkan Dr H Amirul Tamim, mantan Walikota Baubau, yang saat ini menjadi anggota DPD RI, juga putra terbaik Buton, dalam komentarnya, menyambut gembira buku yang mengkisahkan tentang jejak Kesultanan Buton di Wilayah Nusantara dahulu. Penulis sebagai salah seorang peserta webiner bedah buku “Negeri Kahlifatul Khamis”, berharap seharusnya kaum milenial Bangsa Indonesia sekarang, memiliki spirit dan daya juang sebagaimana Sultan Murhum untuk membangun peradaban Indonesia yang lebih baik.
Ada sebuah catatan penting penulis berkenaan dengan perjuangan Kesultanan Buton, dibawah kepemimpinan Sultan Murhum bergelar Sultan Kaimuddin Khalifatul Khamis, yang sangat relevan dengan euforia mengenang Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia 75 tahun silam, yakni 17 Agustus 1945. Baru saja diperingati beberapa hari lalu.
Hal penting itu, yang barangkali banyak orang Indonesia tidak tahu, bahwa fakta historis mencatat Kesultanan Buton dibawah kepemimpinan Sultan Murhum sejak 1538, setelah tersentuh oleh peradaban Islam. Negeri yang dinisbatkan dengan Khalifatul Khamis, tidak pernah tersentuh oleh hegemoni penjajahan Kolonial Portugis dan Belanda. Kapal dagang Kompeni Belanda dibawah bendera “Vereenigde Oostindische Compagnie” (VOC), sekitar abad pertengahan, ketika hendak menjajah Kesultanan Ternate, harus melewati perairan yang berada dibawah pengawasan Sultan Murhum. Kompeni Belanda tidak mau mengambil resiko melakukan perlawanan senjata dengan Kesultanan Buton yang memiliki armada laut sangat tangguh. Alternatif yang dibuat Kompeni Belanda adalah melakukan perjanjian damai dengan Kesultanan Buton hingga Kesultanan Buton menjadi wilayah netral yang tidak tersentuh oleh Kolonialisme Belanda.
Netralitas Kesultanan Buton secara geopolitik tidak tersentuh cengkraman penjajahan Belanda, telah menjadikan wilayah Khalifatul Khamis sebagai wilayah yang mumpuni memiliki kemerdekaan politik. Ini tidak terlepas dari kewibawaan Sultan Murhum yang berintgritas sangat kuat. Apa rahasianya? Paling logis karena kekuatan spirituil pribadi Sultan Murhum yang bersumber dari nilai-nilai Islam ideologis.
Napak tilas hubungan politik antara Kesultanan Buton dengan Kekhilafahan Islam di Turki Utsmaniyah, telah memantapkan negeri Khalifatul Khamis menjadi salah satu wilayah kesultanan Islam, yang berwibawa dan penuh percaya diri, untuk menghadapi ancaman militer negeri asing (darul kufur). Begitu juga, semangat jihad fisabilillah yang dimiliki armada maritim pasukan Sultan Murhum, mampu menggelorakan muslim Buton untuk mempertahankan negeri mereka dari serangan musuh, terutama serangan dari negeri kafir.