Berita Terkini
Buton

Umar Samiun Bicara (2): CPHMA dan Ekstrak, Aspal Buton Gunakan Teknologi Dalam Negeri

Oleh Irwansyah Amunu · Selasa, 26 Januari 2021 11:37 WIB · 2 menit baca
Bagikan
Umar Samiun Bicara (2): CPHMA dan Ekstrak, Aspal Buton Gunakan Teknologi Dalam Negeri

CPHMA dan Ekstrak. Dua jenis ini yang ditemukan Samsu Umar Abdul Samiun untuk menjawab kebutuhan nasional. Bagaimana kiat Umar Samiun -sapaan Samsu Umar Abdul Samiun- mengalahkan teknologi Cina dengan menggunakan teknologidalam negeri? Berikut penuturannya kepada wartawan Buton Pos, Irwansyah Amunu.

SEBAB walaupun punya CPHMA (Cold Paving Hot Mix Asbuton), kita mesti punya dukungan regulasi untuk memaksa. Sementara mafia-mafia dekat juga dengan regulasi.

Sambil kita dobrak, juga Coba riset kembali, alhamdulillah berhasil. Kita juga bisa ekstrak, alhamdulillah, akhir bulan insyaallah kita sudah mulai launching terhadap industri ekstraksi sudah memakai teknologi dalam negeri.

Jadi dalam era ini berhasil dua, CPHMA, dan ekstraksi penuh 100 persen setara dengan aspal minyak. Tapi aspal minyak, tadi saya bilang limbah, aspal alam tidak mungkin kalah, harga dan kualitasnya jauh lebih tinggi.

Tapi okelah kita ikuti harga dia, untuk mengukur moralitas bangsa ini dengan harga yang sama kualitas yang tinggi, kenapa tidak dipakai, itu masalah kan? Begitu pertanyaanya.

Kembali ke pertanyaan tadi, bahwa sekarang pemerintah sudah semarak untuk memakai, ini yang disepakati. Dari kemarin Pak Jokowi lalu melakukan penetrasi ke bawah lewat menteri Koordinator, Pak Luhut sudah mulai masif ini, semua berkeinginan seperti itu. Tinggal masalahnya keraguan pemerintah pusat apakah kebutuhan nasional sudah bisa dijawab Aspal Buton? Beberapa kali ini sudah menjadi pembahasan, dengan catatan saya kasih solusi kalau hari ini kita mau pakai sebagaimana keinginan Pak Luhut sudah memerintahkan sampai dengan bulan April belum bisa memakai produk eskstrak. Tapi kita punya produk lain, CPHMA.

CPHMA sudah murni tidak lagi memakai aspal impor. Dulu kita pernah dikuda-kudai juga, dikelabui-kelabui, tapi bukan pemerintahan Pak Jokowi, pemerintahan sebelumnya.

Bagikan