Gagasan Hugua (2): GTRA Summit di Wakatobi, Sultra punya Potensi Wisata Kelas Dunia

BILA tidak ada aral melintang, medio tahun ini digelar iven kelas dunia di Wakatobi. Berikut penuturan anggota Komisi II DPR RI, Ir Hugua pada wartawan Buton Pos, Irwansyah Amunu.
DAN ini kayak gayung bersambut, ya kayak gayung bersambut Bupati Wakatobi, Gubernur Sulawesi Tenggara dan saya bersama Wakil Menteri ATR BPN, kami sudah melakukan perjalanan di Wakatobi. Tadinya sebetulnya Wakatobi dan Sulawesi tenggara tidak siap. Menurut pandangan mereka untuk GTRA Summit namanya, Gugus Tugas Reforma Agraria Summit dengan Kementerian ATR BPN termasuk yang datang ke sini adalah Wakil Menteri ATR BPN mengatakan bahwa kelihatannya Wakatobi dan Sulawesi Tenggara gak siap.
Saya bilang sama Pak Menteri atau Wakil Menteri, termasuk saya pertegas di RDP dengan Menteri Sofyan Djalil. Kalau anda lihat di Youtube atau Facebook, saya katakan bahwa tidak ada alasan bahwa Sulawesi Tenggara, Wakatobi, tidak stand by, tidak siap menjadi tuan rumah. Kenapa? Karena saya pernah menyelenggarakan event UN Habitat Converence yang ada di Wakatobi tahun berapa 2014-2015 yang lalu.
UN Habitat Converence dihadiri kurang lebih 184 bupati/wali kota Asia Pasifik. Wali Kota Kazan dari Rusia ada di Wakatobi. Gubernur Jeju ada di Wakatobi. Wali kota yang ada disekitar Melbourne ada di Wakatobi. Banyak sekali wali kota-wali kota dari Jepang. Termasuk Wali Kota Borfambodi dari India ada di Wakatobi. Dan itu ada 184 bupati/wali kota Asia Pasifik.
Bagaimana Wakatobi tidak siap? Pasti siap. Makanya saya bilang kepada Bapak Menteri, disana pertemuan-pertemuan kalau 500 orang sampai 1000 its okey. Yang GTRA Summit berapa, kalau menteri berapa yang datang ke Wakatobi?
Kemudian anggota DPR berapa? Paling kan Komisi II yang relefan dengan ini. Nah pada saat yang bersamaan, presiden hadir ke Wakatobi, GTRA sekaligus juga kita letakkan namanya artifisial coral reef. Artinya terumbu karang buatan, simbol bahwa presiden Joko Widodo adalah pimpinan G20, negara-negara besar yang tergabung di dalam G20. Kemudian juga pimpinan COP. Tanggal 27 nanti berada di Indonesia.
Apa COP? Itu kaitannya dengan G20. Kita kenal sekarang bahwa di tengah-tengah percaturan politik dunia, maka satu hambatan dan satu ancaman yang paling mendasar, tidak cuma orang Indonesia tapi seluruh dunia adalah namanya perubahan iklim.