Sultra

Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana, UHO Gelar Simulasi Tanggap Darurat di SMAN 8 Konsel

Oleh Redaksi · Kamis, 1 Oktober 2026 07:46 WIB · 3 menit baca
Bagikan
Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana, UHO Gelar Simulasi Tanggap Darurat di SMAN 8 Konsel

PUBLIKSTU, ANDOOLO- Jurusan Geografi Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Halu Oleo (UHO) mengemas program pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk menyelenggarakan kegiatan peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui simulasi penanggulangan bencana gempa bumi di Aula SMAN 8 Konawe Selatan, Rabu (24/09/2026).

Tampil sebagai pemateri pertama Ketua Jurusan Geografi Fakultas MIPA Universitas Halu Oleo (UHO), Dr. Sawaludin, S.Pi., M.Sc merangkap sebagai Ketua Literasi Spasial.

Sawaludin menjelaskan langkah pertama dalam upaya mengantisipasi bencana gempa adalah, mengenal peta dan literasi spasial. Mengapa langkah pertama ini harus disiapkan karena gempa tidak bisa dicegah, tapi risikonya bisa dipetakan. "Dan peta adalah bahasa untuk membaca risiko itu," tegasnya.

Selain itu, Sawaludin mengingatkan kepada seluruh murid ada lima alasan penting mengapa literasi spasial itu wajib untuk antisipasi gempa, khususnya di Konsel. Pertama, peta memberitahu kita sedang berdiri di atas apa sehingga tanpa peta, setiap orang tidak tahu posisi dimana dia berdiri.

"Dengan peta geologi dan peta sesar aktif dari BMKG (Badan Meterologi, Krimatologi dan Geofisika, red), kita bisa tahu. Apakah SMAN 8 Konsel dekat dengan Sesar Lawanopo yang membelah Sultra?. Apakah tanah sekolah termasuk tanah lunak (rawa timbunan) yang akan memperkuat guncangan?. Orang yang buta peta akan kaget saat gempa. Orang yang melek peta sudah waspada sebelum gempa," tandas Sawaludin.

Kedua, lanjut Sawaludin, peta sangat menentukan mau lari ke mana sehingga ada jalur evakuasi dan titik kumpul.
Ketika gempa 10 detik terjadi misalnya, otak panik tidak bisa berpikir, maka yang menyelamatkan adalah hafalan ruang.

Dosen Jurusan Geografi ini mengaitkan dengan literasi spasial untuk melatih murid, agar mampu mengingat dimana pintu keluar terdekat dari kelas? Lalu jalur mana yang tidak akan tertimpa reruntuhan? Di mana titik kumpul aman yang jauh dari gedung, tiang listrik, dan sungai? "Ini yang dilatih dalam simulasi kemarin. Tanpa peta evakuasi, evakuasi berubah jadi rebutan dan korban bisa terinjak-injak," kata Sawaludin.

Sawaludin mengatakan ketiga, peta mencegah bencana kedua atau multi resiko. Karena di Konawe Selatan diprediksi gempa jarang berdiri sendiri, bahkan bisa memicu longsor di daerah perbukitan. "Kemungkinan banjir bandang. Jika tanggul sungai jebol, maka bisa saja terjadi likuifaksi di area persawahan basah. Dengan peta overlay (tumpang susun, red) antara peta gempa, peta banjir, peta longsor dari BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Darurat, red). Kita bisa melihat desa mana yang punya risiko ganda, ini yang disebut pemetaan sosial rawan bencana," katanya.

Keempat, Sawaludin mengingatkan bahwa peta alat komunikasi paling cepat ketika darurat. Saat gempa, listrik mati, sinyal hilang, maka yang paling cepat dipahami semua orang adalah peta manual di dinding.

Sawaludin mengatakan bahwa murid yang melek spasial bisa menunjukkan ke tim SAR di mana ada teman yang terjebak melalui koordinat. Selanjutnya, membuat peta pengungsian darurat dengan Avenza Maps di HP meski offline. Kemudian
mendata rumah warga yang rusak dengan titik GPS akurat untuk bantuan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana, red).

Sawaludin mengingatkan poin kelima, bahwa membangun peta, membangun kesadaran kolektif. Ini yang paling penting agar semua warga menyadari dimana lingkungan tempat tinggal berada di wilayah rawan bencana. Agar warga selalu siap siaga kapan saja terjadi bencana tidak terlalu panik karena sudah dibekali lebih awal pengetahuan cara mengantisipasi bencana gempa bumi kapan saja terjadi.

Ketua Literasi Spasial ini berharap, setiap murid yang mengikuti kegiatan peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui simulasi penanggulangan bencana gempa bumi. Merupakan langkah awal untuk memulai membangun kesadaran kolektif warga, sehingga lewat murid-murid SMAN 8 Konsel bisa menjadi penyambung komunikasi ke semua warga. "Minimal di rumah dan lingkugan tetangganya," tutupnya. (mus)

Bagikan