Bermimpi yang Realistis, Amirul: Kepala Daerah Cuma Lima tahun
Bagikan

KOTA Baubau episentrum wilayah Kepulauan Buton (Kepton). Bagaimana kondisinya menuju HUT ke-485 dan hari jadi ke-25 sebagai daerah otonom? Seperti apa peran hinterland atau daerah belakangnya? Berikut petikan wawancara Pemred Publiksatu, Irwansyah Amunu bersama anggota DPD RI, Dr H MZ Amirul Tamim.
Bicara daratan dan kepulauan, Baubau adalah episentrum atau pusatnya, kota rasa provinsi. Baubau tidak lama lagi akan berusia 485 tahun sebagai daerah kota, sebagai daerah otonom 25 tahun. Bagaimana Bapak melihat sejauh ini?
Sebenarnya kita jangan terjebak dengan efisiensi. Karena pelaku pembangunan bukan hanya pemerintah. Masyarakat juga harus sebagai agen pembangunan. Pemerintah jangan selalu berpikir harus dia yang bangun semua.
Kita tetap hadir sebagai fasilitator. Kemudian kita juga harus menjadi sebagai pion pembaruan dan pembangunan.
Dengan langkah kebijakan saja, menyuarakan, menuangkan di dalam program yang terbuka, bahwa beginilah cara kita membangun kota. Disana kita akan bangun ini, kita amankan ini, kita amankan itu, yang konsepnya itu.
Ruang-ruang yang kita umumkan seperti itu, biar nanti masyarakat dan pelaku-pelaku ekonomi yang isi. Tapi ada kepastian bahwa ketika kamu membangun kita tidak ada beban-beban yang memberatkan, sehingga ekonomi real bergerak tanpa perlu tambahan-tambahan cost. Dari sisi sejarah dan fasilitas, saya pikir kita punya peluang besar untuk itu.
Cuma memang yang perlu kita sikapi soal bandara. Bandara ruangnya jangan terjebak dengan dinamika masyarakat kota memanfaatkan kawasan-kawasan sekitar bandara membangun tanpa perencanaan.
Dulu kita sudah jaga dengan prediksi kalau bandara berkembang pesat, sudah didarati pesawat berbadan besar, bisa mengantisipasi dinamikanya. Tapi coba sekarang anda lihat. Bayangkan dua pesawat berbadan besar dengan hanya selisih satu jam mendarat di Baubau. Anda tahu dalam dua jam yang sama, 400 penumpang turun, dan 400 penumpang yang mau berangkat.
Kau sudah hitung. Dimana menampung 800 orang, dengan terminal yang bagaimana modelnya 400 orang? Belum pengantar, belum pelaku ekonomi yang jual makanan, belum mobil yang mengantar, belum mobil yang menjemput. Jadi rekayasa ruang harus dibarengi dengan kesiapan ruang untuk mengantisipasi dinamika masa depan.
Tapi kalau kalian membiarkan seperti itu, terpaksa kemungkinan untuk menghubungkan pulau ini dengan konteks lapangan terbang, kemungkinan bukan di (Baubau) sini tempatnya. Bisa di tempat lain, karena adanya kendala kita gagal memelihara. Orang tidak hitung seperti itu.
Padahal dulu kita jaga sedemikian rupa. Kalau tanahnya masyarakat, dulu saya katakan, kalian punya tanah tetap diakui berada dikawasan itu. Tapi kalau dipakai untuk warung-warung kecil, nilainya rendah.
Tapi kalau disimpan sebagai deposito, yang pada titik tertentu dimanfaatkan untuk kepentingan bandara, mungkin nilainya ratus kali naik, bahkan beribu kali. Mungkin dari 6000 per meter, kedepannya bisa jutaan per meter.
Karena digunakan untuk kepentingan-kepentingan ekonomi yang punya nilai ekonomi tinggi.
Jadi bapak melihat dalam usianya yang ke-485 tidak muda lagi?
Dia tidak muda lagi, dan memang tidak muda. Karena ini kota yang kita sepakati dulu, kita tarik jejak ke belakangnya, ini kota yang sudah tua dalam perspektif masa lalu.
Kemudian dalam daerah otonom kita 25 tahun. Kalau dimulai ketika saya jadi wali kota masih bayi, masih anak-anak. 2003 kan baru dua tahun, belum jalan juga, tapi sekarang sudah mahasiswa, mau S2.
Dulu masih bayi tapi sudah berlari.
Sudah berlari. Bayangkan saya jadi wali kota 2003, melihat kota ini, bukan kota yang baru. Tapi dalam usia 25 tahun sebagai daerah otonom, ini orang dewasa. Yang sudah harus kita siapkan.
Orang dewasa sudah pakai celana panjang, bukan lagi celana pendek. Makannya lebih banyak, pergaulan luas. Kemudian belanja kebutuhan dan lain sebagainya lebih besar, jadi cara hitungnya seperti itu.
Dulu kita sudah lebarkan jalan, padahal masih bayi. Belum bisa bawa mobil.
Tapi sekarang, bayangkan orang dewasa itu sudah punya mobil semua. Mau lewat dimana? Pertanyaan berikutnya, dia mau tinggal dimana? Tempatnya bagaimana? Masa mau tetap dikasih kawasan-kawasan lama yang mereka tinggal dalam usia ini.
Bagaimana kita melihat bahwa 25 tahun, dia tidak berhenti di angka 25. Tapi dia terus beranjak kepada usia yang lebih dewasa. Membutuhkan ruang-ruang yang bisa menampung dinamikanya.
Adanya harapan terkait Undang-Undang Daerah Kepulauan dan Kepulauan Buton, kira-kira mana yang lebih dulu?
Kita memang beberapa waktu lalu, kami beberapa pihak dari DPD menemui wakil presiden, selaku ketua Dewan Pertimbangan Ototomi Daerah. Gambaran untuk itu mungkin dalam waktu singkat masih menjadi persoalan.
Tantangan baru kita ke depan bagaimana sebagai bagian dari Sulawesi Tenggara yang berada di kaki depan Sulawesi, tidak menunggu jadi provinsi baru bergerak menata sebagai daerah provinsi.
Tapi bagaimana kita bersepakat semua, para pemuka, elit dan pemerintah daerah setempat, merancangnya kawasan ini sudah berbasis daerah provinsi.
Bagaimana menyikapinya? Masing-masing kabupaten, instruktur pendukungan meletakkan landasan-landasan ekonomi masa depan harus punya kesepakatan. Seperti yang kita cerita tadi.
Bagaimana kita melihat Pulau Muna dengan enam dermaga ferinya. Terus bagaimana menyiapkan titik-titik penghubung dengan kawasan itu.
Lalu bersepakat di daerah kepulauan ini. Siapa yang berperan sebagai kawasan-kawasan penampung dinamika, kedepan ruang-ruang baru. Kemudian bagaimana mengembangkan fasilitas-fasilitas pendukung yang strategis. Seperti lapangan terbang, pelabuhan dan lain sebagainya.
Serta bagaimana menyiapkan rumah sakit yang representatif di masa depan untuk semua titik-titik daerah-daerah pemerintahan. Di Baubau idealnya berapa rumah sakit yang representatif.
Di daerah Buton dimana saja yang harus dikembangkan. Kita belajar dari kegagalan dalam beberapa tahun kenapa tidak tumbuh. Harus dilakukan rekayasa baru.
Kemudian daerah-daerah yang lain jangan terlalu bermimpi tetapi tidak realistis. Harus kita bermimpi yang realistis. Karena seorang kepala daerah cuma lima tahun kontraknya.
Kalau kau bermimpi terus, kapan bangunnya? Oleh sebab itu berpikirlah. Selalu melakukan temu-temu, tukar-tukar pengalaman dan membuat kesepakatan-kesepakatan bersama.
Jangan semua kalau saya bangun ini, disana juga bangun itu. Yang perlu ada kesedaran bersama untuk melihat masa depan itu.
Kesadaran bersama dan dunia tidak selebar daun kelor.
Dunia tidak selebar daun kelor. Hehehe.(bersambung)
