Berita Terkini
Wakatobi

Sepenggal Kisah SMP dan SD Swasta Maritim Mola

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Kamis, 18 Oktober 2018 13:14 WIB · 2 menit baca
Sepenggal Kisah SMP dan SD Swasta Maritim Mola
Kondisi terkini SD dan SMP Swasta Maritim di Desa Mola

MEMILIKI Sekolah Menengah Pertama (SMP) Swasta Maritim dan Sekolah Dasar (SD) Swasta Maritim Mola, adalah kebanggaan tersendiri dari sebagian anak-anak di suku Bajo Mola Wangiwangi Selatan.

Selama 12 tahun terakhir, kedua sekolah ini telah mendekatkan mereka dengan dunia pendidikan yang cocok dengan karakteristik kehidupan masyarakat suku Bajo yang tidak bisa lepas dengan kehidupan laut.

Ya, namanya juga sekolah maritim. Disini, selain mengerjakan kewajiban membantu orang tua sebagai nelayan, bersekolah juga mendapatkan ilmu tambahan pengetahuan tetang menjaga lingkungan laut yang baik.

Sehingga bukan hal yang langka jika mengunjungi sekolah ini melihat anak-anak Mola membawa tali pancing dan memancing.

Bahkan ada mata pelajaran muata lokal (Mulok) kelautan, dimana setiap hari Jum'at para siswa praktek dilaut. Sayangnya mata pelajaran ini sudah dihapus karena mengikuti kurikulum.

Kedua sekolah ini, dirintis tahun 2006 lalu oleh beberapa orang PNS asal Wakatobi yang perihatin dengan kondisi pendidikan sebagian anak-anak di Mola yang menganggap pendidikan tidak terlalu penting untuk mereka.

"Inilah alasan kenapa kami bersama teman-teman membangun sekolah ini. Kami ingin hilangkan paradigma masyarakat bahwa tidak sekolah juga tidak apa-apa," kisah salah satu pendiri sekaligus Kepala Sekolah SD Swasta Maritim Mola, Nurdin mengenang 12 tahun silam pada koran ini, kemarin.

Membangun sekolah, kata dia, bukanlah perkara yang gampang. Sebab membutuhkan kerja keras dan kemauan. Atas dorongan pemerintahan Ir Hugua, serta hasil konsultasi sara Mandati, Nurdin dan teman-temannya diizinkan mendirikan sekolah.

"Kami dipinjamkan bekas kantor bupati pertama untuk membangun sekolah," terangnya.

Dengan segala keterbatasan biaya, di

tahun 2007 sekolah barulah dioperasikan. "Dan alhamdulillah kami mendapat suntikan anggaran dari Pemprov untuk membangun dua RKB (ruang kelas belajar)," imbuhnya.

Ketika itu sambung dia, pihaknya berhasil merekrut murid perdana untuk SD sebanyak 30 orang, SMP sebanyak 15 orang, namun yang bertahan hanya 9 orang.

"Sebelum bangunan digunakan, kita sempat meminjam rumah warga untuk mengajar sementara," pungkasnya.

Dan agar sekolah tetap berjalan sambug, Nurdian, direkrut beberapa guru status PNS dan masyarakat yang ingin sukarela membantu mengajar dengan gaji seadanya.

"Saya masih ingat honor kepala sekolah waktu itu Rp 65.000," terangnya.

Setelah memasuki tahun 2008, barulah sekolah yang didirikan tersebut mendapat Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah provinsi hingga sekarang ini.

"Membangun sekolah banyak susahnya dari pada senangnya. Mau apalagi, demi melihat mereka sekolah," ujar dia.

Meski begitu, kedua sekolah swasta ini tetap membutuhkan bantuan dari pemerintah, mengingat masih banyak fasilitas yang kurang memadai.

Untuk diketahui, SMP Swasta Maritim dan SD Swasta Maritim Mola ini di bawah naungan Yayasan Bahari. (m5)