Berita Terkini
Wakatobi

RSUD Wakatobi Rawat Tiga Pasien Gizi Buruk Dalam Setahun

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Sabtu, 20 Oktober 2018 13:29 WIB · 2 menit baca
RSUD Wakatobi Rawat Tiga Pasien Gizi Buruk Dalam Setahun
Bupati Wakatobi, Arhawi menjenguk pasien penderita gizi buruk yang terbaring lemas di ruang ICU, tahun 2017 lalu

PUBLIKSATU, WAKATOBI - Kisah pengidap penyakit gizi buruk yang ditangani pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Wakatobi seakan tidak ada habisnya. Satu tahun terakhir, tercatat sudah tiga pasien balita yang pernah mendapat perawatan di sana.

Diantaranya, balita perempuan asal Desa Bajo Sampela, Kecamatan Kaledupa bernama Nurdenia. Balita berumur 6 tahun ini, belum lama dipulangkan setelah menjalani perawatan selama lima hari.

"Masuk tanggal 9 sampai tanggal 14. Saat masuk awalnya diare, kebetulan saya waktu itu di luar daerah. Ditelepon teman-teman dari bangsal dan saya sampaikan dirawat baik-baik," terang Direktur RSUD Wakatobi, Dr Munarddin.

Menurutnya, untuk mengurangi pasien serupa butuh kerja ekstra dari semua pihak. Terutama Dinas Kesehatan (Dinkes) yang mesti mendeteksi keberadaan pengidap penyakit gizi buruk ini.

Meski begitu, dirinya juga menghimbau masyarakat untuk selalu megikutkan bayinya jika ada kegiatan posyandu. "Kemudian untuk masyarakat memaksimalkanlah kalau ada posyandu supaya anak-anaknya di bawa," harapnya.

Kebenaran tiga balita pengidap gizi buruk yang dirawat di RSUD diakui juga Pelaksana tugas (Plt) Dinkes Wakatobi, Muliaddin. Katanya, hal tersebut berdasarkan data yang masuk ke pihaknya selama ini.

"Yang satunya dari Kaledupa, Bajo juga, yang satunya dari Desa Komala yang pernah itu hari juga dirawat di rumah sakit," terangnya.

Lebih lanjut jelas dia, rata-rata pasien gizi buruk itu memang karena kurangnya asupan gizi. Salah satu pemicunya karena persoalan ekonomi.

Untuk mencegah meningkatnya balita pasien gizi buruk di Kabupaten Wakatobi sambung Muliaddin, pihaknya sudah melakukan langkah sosialisasi pencegahan dan penanganan stunting (balita pendek), kurang gizi, dan gizi buruk.

Sosialisasi ini melibatkan 70 keluarga yang memiliki Balita. Termasuk ibu-ibu hamil di Desa Komala, Kecamatan Wangiwangi, Kamis (18/10) kemarin.

"Langkah ini merupakan penanganan spesifik. Kami memberikan penyuluhan agar ibu hamil selalu memeriksakan kehamilannya minimal empat kali selama massa kehamilan," imbuhnya.

Ia berharap, bagi keluarga yang mempunyai anak Balita agar setiap bulan dibawa ke Posyandu.

"Ada petugas kami yang akan memandu di sana. Misalnya berat badan Balita bulan ini hanya dua kilo, bulan berikutnya tetap hanya dua kilo. Berarti ada gangguan kesehatan sehingga nanti petugas kesehatan bisa melakukan tindakan, apakah balita tersebut diberikan makanan tambahan atau apa," tambahnya. (m5)