Sultra

Bom Meledak di Pos Pengamanan, Pimpinan PT Antam UBPN Disandera

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Jumat, 23 November 2018 15:53 WIB · 3 menit baca
Bagikan
Bom Meledak di Pos Pengamanan, Pimpinan PT Antam UBPN Disandera
Dirjen Minerba Kementerian ESDM, bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggelar simulasi penanganan teroris yang diadakan di kawasan pabrik dan kantor PT Antam UBPN Sultra di Kecamatan Pomalaa

PUBLIKSATU, KOLAKA - Salah seorang pimpinan PT Antam Unit Bisnis Pertambangan Nikel (UBPN) Sultra, disandera dan disekap di sebuah bangunan tua oleh sekelompok teroris, Kamis (22/11). Aksi penyanderaan tersebut diketahui oleh Kapolres Kolaka setelah menerima laporan intelijen mengenai aktivitas terorisme di sekitar obyek vital nasional (Obvitnas) Antam, Pomalaa.

Guna menghindari jatuhnya korban,Kapolres Kolaka mengerahkan Satuan Shabara melakukan negosiasi dengan para penyandera yang dperkirakan lebih dari 3 orang. Sayangnya, dua kali negosiasi tidak membuahkan hasil, dan penyandera justru melakukan perlawanan menggunakan senjata api, serta mengancam membunuh sandera.

Melihat kondisi yang sudah tidak memungkinkan lagi dilakukannya upaya persuasif, Kapolres akhirnya meminta tim khusus Wanteror, Gegana Brimob Polda Sultra untuk melakukan upaya pembebasan. Tim Wanteror Gegana Brimob bersenjata lengkap yang tiba di TKP, kemudian langsung mengambil posisi untuk melakukan peyergapan dan pembebasan sandera.

Saat bersamaan, dua Sniper (penembak jitu) dari tim yang sama juga terlihat siaga di atas sebuah hydrant tank milik PT Antam. Setelah situasi memungkinkan, tim Wanteror langsung melakukan penyergapan ke dalam bangunan tempat penyekapan sandera.

Dalam waktu kurang dari 10 menit, tiga orang penyandera berhasil dilumpuhkan. Satu dari mereka dinyatakan tewas, seorang lainnya terluka, dan satu lagi dipaksa menyerahkan diri. Sementara itu, pimpinan PT Antam yang menjadi korban dalam aksi penyanderaan tersebut berhasil diselamatkan tanpa mengalami cedera berarti.

Dalam aksi pembebasan sandera Tim Wanteror Gegana menemukan sebuah benda diduga bom aktif yang sebelumnya siap diledakkan oleh para teroris. Untuk menghindari terjadinya kondisi bahaya, tim khusus dari satuan penjinak bom (Ji Bom) diturunjan untuk mengidentifikasi benda yang diduga bom tersebut.

Dari hasil identifikasi akhirnya diketahui, benda yang ditemukan di TKP positif bom aktif berdaya ledak sedang, namun tidak memungkinkan untuk dipindahkan. Setelah proses identifikasi, tim Jin Bom Gegana akhirnya memutuskan bom berdaya ledak sedang tersebut harus diledakkan di tempat (disposal), dan upaya itu berhasil dilakukan.

Sebelum terjadinya penyanderaan terhadap pimpinan PT Antam UBPN Sultra kemarin, sekelompok massa sempat melakukan aksi unjuk rasa anarkis di depan kantor Antam UBPN, namun berhasil dikendalikan oleh satuan pengendali massa (Dalmas) dan Babinkamtibmas.

Namun tidak lama berselang, sebuah ledakan terjadi di sebuah pos jaga milik Securiti Antam. Seorang petugas jaga dilaporkan tewas di tempat dan tiga lainnya mengalami cedera serius. Beberapa saat setelah ledakan, aparat Polres Kolaka dan puluhan pasukan TNI dari Kompi Senapan B Yonif 725 Langori, langsung mengisolasi TKP.

Tim Inavis Polres Kolaka yang tiba di TKP langsung melakukan identifikasi, dan tenaga medis dari RSBG Kolaka terlihat subuk mengevakuas korban ledakan.

Aksi penyanderaan serta upaya peledakan bom di kawasan pabrik dan kantor PT Antam UBPN Sultra di Kecamatan Pomalaa oleh sekelompok teroris, hanyalah simulasi SOP penanganan teroris yang diadakan Dirjen Minerba Kementerian ESDM, bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Simulasi yang digelar di lapangan panahan, samping Main Office Antam UBPN Sultra, Kamis (22/11), dihadiri Direktur Teknik Lingkungan Ditjen Minerba Sri Rahardjo, Direktur Perlindungan BNPT Herwan Caidir, Wabup Kolaka, Muhammad Jayadin, General Manager Antam UBPN Sultra, Hartono, unsur Forkompimda, pejabat BNPT, dan akademisi UI dan LIPI.

Dalam sambutannya, Direktur Teknik Lingkungan Ditjen Minerba, Sri Rahardjo menegaskan, penajaman penanggulangan bahaya terorisme melalui simulasi SOP urgen dilakukan, mengingat ancaman teror tidak hanya menyasar fasilitas umum, tapi juga mengancam obyek vital negara seperti Antam.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Perlindungan BNPT, Herwan Chaidir menyatakan, penegakkan SOP penanggulangan terorisme merupakan upaya negara menghadirkan rasa aman bagi masyarakat, melalui peningkatan keterampilan dan ketangkasan personel.

Sementara itu, General Manager Antam UBPN Sultra, Hartono menyatakan bahwa kehadiran aparat TNI/Polri dan BNPT secara langsung telah memberi semangat dan rasa aman bagi pelaku usaha dalam memajukan perekonomian negara. (m6)

Bagikan