Berita Terkini
Wakatobi

Kiat Bupati H. Arhawi Menata Wakatobi

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Selasa, 11 Desember 2018 14:06 WIB · 14 menit baca
Kiat Bupati H. Arhawi Menata Wakatobi

WAKATOBI bukan hanya milik Indonesia, tapi juga dunia. Bagaimana kiat Bupati H. Arhawi menata daerahnya? Berikut petikan wawancara wartawan Buton Pos, Irwansyah Amunu kepada duet Ilmiati Daud tersebut di Rujabnya, belum lama ini.

---Di tangan bapak, pembangunan Wakatobi sampai di mana?

Daerah ini harus dibangun secara estafet, Pak

Hugua dua periode dan kemudian di periode

terakhirnya saya menjadi wakilnya. Tentu daerah

ini akan melihat progresnya apabila dari

kepemimpinan-kepemimpinan tetap bersinergi

tertutama program yang selama ini memang sudah diniatkan oleh pemimpin dan masyarakatnya. Terutama Wakatobi sebagai daerah pariwisata kemudian di dalamnya sektor perikanan tetap menjadi unggulan.

Nah, pada 2016 setelah saya mendapat mandat dari masyarakat maka dari dua leading sektor itu saya tambah bagaimana memahami kultur masyarakat yang selama ini turun-temurun, menjadi daerah dimana perdagangan antar pulau penting untuk diperhatikan pemerintah. Sehingga visi daerah ini dari surga nyata bawah laut kita bawa menjadi bagaimana kita harus jadikan menjadi kabupaten maritim yang sejahtera dan berdaya saing.

Alasannya, bahwa Wakatobi 1,36 juta kilometer,

tiga persennya darat. Sehingga konsentrasi

pembangunan sekarang tetap masih memaksimalkan di sektor perikanan dan kelautan termasuk di dalamnya potensi bawah laut Wakatobi yang memiliki keunikan, ragam, dan jenis ikan yang selama ini telah kita proklamirkan.

Nah, dari niat besar 10 tahun dan di dalamnya

lima tahun saya bersama-sama dengan Pak Hugua

sangat tidak elok kalau apa yang telah

diletakkan 10 tahun putus. Karena saya memahami

betul tentang bagaimana cita-cita bersama

membangun daerah ini yang di dalamnya kekuatan

kita yang terbesar di laut.

Bagaimana kekuatan ini tetap didorong, gali, dan

bahkan angkat agar mudah-mudahan potensi ini

bisa kita persembahkan untuk kesejahteraan

masyarakat Wakatobi. Kesejahteraan ini

sebetulnya tidak mudah didapat karena banyak hal

yang harus kita persiapkan di daerah. Terutama

bagaimana sumber daya manusianya saat daerah ini

kita proklamirkan menjadi destinasi pariwisata.

Sehingga penting persiapan sumber daya manusia

agar memiliki daya saing.

Kemudian dalam waktu

bersamaan, karena daerah ini sudah diletakkan 10

tahun oleh Pak Hugua dan di dalamnya bersama-sama

dengan saya, maka saya melanjutkan, sehingga

daerah ini telah mendapatkan pengakuan dari

Kementerian Parwisata menjadi salah satu daerah

dari 100 daerah yang sudah masuk dalam kalender

iven nasional.

Pengakuan itu sebetulnya lahir juga dari

penetapan Presiden Indonesia menjadi salah satu

dari 10 top destinasi pariwisata nasional.

Sehingga daerah ini juga telah kita ditetapkan

oleh Kementerian Pariwisata menjadi satu daerah

yang memiliki kalender iven setiap tahunnya. Dan

kegiatan ini sebetulnya telah disupport oleh

Kementerian Pariwisata dan daerah ini sudah

merupakan bagian dari Indoensia yang harus

didorong dipromasikan menjadi salah satu

destinasi di Indonesia.

Kemudian daerah ini Saya kira juga kita butuh

setelah menjadi salah satu destinasi pariwisata

nasional, tentu masyarakatnya juga harus punya

filter yang kuat terhadap berbagai budaya yang

akan masuk ke daerah. Sehingga pemerintah pun

memiliki program untuk bagaimana daerah ini

tetap terjaga dan terpelihara eksistensinya

terhadap agama yang dianut selama ini.

Sehingga walaupun sudah terbuka untuk siapa

Wakatobi ini, maka diharapkan masyarakatnya

tetap tidak terpengaruh dari budaya luar.

Sehingga ada program kita di dalamnya bagaimana

harus memperkuat tempat-tempat pengajian Alquran

di seluruh wilayah Wakatobi. Dan sudah kita

lakukan, disetiap lingkungan diharapkan ada

tempat pengajian Alquran dibiayai Pemda untuk

melakukan kerja-kerja sosial agar mencerdaskan

anak kita terhadap baca Alquran.

Kebijakan ini juga diikuti dengan keputusan

bupati agar anak-anak kita yang masuk di setiap

jenjang pendidikan paling tidak sudah memahami

baca Alquran.

Demikian juga beberapa program

lainnya seperti memberikan penghargaan terhadap

para umat yang mengabdikan diri di kegiatan-

kegiatan Islam ini baik majelis taklim atau kita

percaya mengajarkan anak-anak kita mengajarkan

Alquran, diseleksi untuk diumrahkan setiap tahun

50 orang.

Sehingga diharapkan daerah ini walaupun sudah

menjadi milik dunia, tetapi nilai Islam dan

budaya dalam rangka mendukung pariwisata tetap

digali, dijaga, dipertahakan, bahkan setiap

tahun kita adakan iven di setiap pulau, dan

puncaknya di Wakatobi Wave, kemarin.

Sebetulnya

itu adalah akumulasi dari beberapa budaya yang

dimiliki empat pulau ini, misalnya Tari Balumpa,

Sajo Moane, Lariangi dari Kaledupa, kemudian

Wangiwangi dengan Kansoda dan Lengko-nya, adalah

sesuatu potensi budaya yang memiliki keragaman.

Meski wilayahnya kecil tapi sangat luar biasa

daerah ini dibanding dengan beberapa daerah

lainnya.

Kadang-kadang luas wilayahnya begitu

besar tapi tidak memiliki keragaman budaya

seperti di Wakatobi. Inilah sebetulnya menjadi

kekuatan, disamping potensi bawah laut yang kita

miliki.

Kemudian daerah ini telah mendapatkan pengakuan

dari Unesco untuk menjadi salah satu cagar

biosfer dunia. Sehingga positioning Wakatobi

sangat luar biasa terhadap berbagai usaha

terhadap bagaimana daerah yang sudah masuk di

taman nasional, dan pengakuan Unesco. Kita

menjaganya dengan melakukan berbagai program

untuk menjaga daerah ini terutama ihwal

lingkungan, sampah, dan lainnya merupakan

prioritas yang harus didorong pemerintah.

Sehingga nama Wakatobi yang cukup tersohor ini

mudah-mudahan dari segala aspek sudah kita

persembahkan dan memiliki nilai bahwa ternyata

pantaslah Wakatobi dijadikan salah satu top

destinasi pariwisata nasional.

---Jadi luar biasa, bapak diberi amanah bukan

saja sebagai kepala daerah, tapi juga memenuhi

tanggung jawab dan kepercayaan dunia?

Ya, sangat luar biasa, karena Wakatobi ini

setelah ditetapkan pemerintah pusat dan Unesco

sudah mengakuinya, sebetulnya bukan milik

masyarakat Wakatobi lagi tapi masyarakat dunia.

Sehingga pengelolaan dan pengendaliannya sudah

lebih komprehensif agar mudah-mudahan beberapa

pengakuan dari pemerintah pusat dan dunia, insya

Allah bisa kita jaga dan pelihara.

---Bagaimana dengan daya dukung infrastruktur?

Seperti yang saya sampaikan tadi bahwa saya

mendampingi Pak Hugua sebagai wakil bupati, saya

pahami bahwa 10 tahun Wakatobi menjadi daerah

otonom yang sudah dipimpin bupati definitif.

Langkah pertama memang dari potensi yang kita

miliki kalau kita tidak angkat dan promososikan

maka daerah ini tidak akan memiliki nilai apa-

apa. Sehingga dengan terpromosianya daerah ini

dan sudah dikenal Indonesia dan dunia, maka

kewajiban saya selanjutnya yang melanjutkan ini

bagaimana harus mengisi berbagai kekosongan yang

belum terisi selama 10 tahun.

Yang paling penting saya lihat bagaimana

penataan infrastruktur daerah, dengan luas

wilayah tiga persen darat. Karena bisa saja

kalau peletakannya tidak tepat, maka potensi

yang kita miliki tidak akan memiliki nilai apa-

apa.

Pertama saya dilantik, saya melaksanakakan

kerjasama dengan Universitas Hasanuddin untuk

menghadirkan berbagai ahli agar memotret daerah

ini. Dan bagaimana harus terdesain detail

ruangnya agar keterbatasan wilayah bisa diatur

sedemikian rupa agar pemanfaatan berbagai lahan

yang sangat terbatas, insya Allah bisa ditata

dan dikelola secara maksimal sehingga tidak

saling bersinggungan dan melemahkan apa yang

sudah kita miliki hari ini.

Katakan daerah ini butuh sebuah kawasan untuk

serapan air yang tinggal didalamnya, itu juga

sudah terdesain dan ter-ploting. Sehingga

beberapa kawasan yang sudah ter-ploting kita

jaga agar tidak dijadikan pemukiman atau

tempat-tempat pengembangan baru. Khususnya

kawasan yang ketika investor hadir maka tidak

akan terganggu lagi kawasan yang ter-ploting

itu.

Bahwa kita butuh parawisata yang sifatnya

massif, tapi tetap juga kita perhatikan beban

daerah ini, agar insya Allah tidak terganggu

dengan berbagai usaha yang kita lakukan di

daerah ini. Sehingga kita juga harus lebih

selektif melihat investor yang masuk untuk

menanamkan modal berinvestasi di bidang

pariwisata, sehingga mudah-mudahan kerja keras

yang kita lakukan dan mulai kita mem-ploting

beberapa kawasan yang di-ploting, itulah yang

akan kita arahkan untuk pengembangan ke depan.

---Salah satunya mungkin bisa dijelaskan

pembangunan kantor bupati yang mulai dikerjakan

tahun ini?

Kantor bupati kenapa penting harus kita bangun,

karena memang perubahan dari PP 41 ke PP 18

tentang perubahan struktur pemerintah daerah.

Kemudian di dalamnya ada rencana aksi yang sudah

kita lakukan dengan KPK untuk bagaimana kita

memberikan Tukin (tunjungan kinerja) kepada

aparatur sipil negara, maka ini juga harus kita

menyesuikan dengan kebutuhan sarana dan

prasarana perkantoran.

Katakan di PP 18 setelah

kita kaji tentang Anjab (analisis jabatan)

ternyata fasilitas hari ini tidak bisa menampung

lagi. Sehingga kebijakannya kita harus membangun

perkantoran baru untuk menyesuaikan kebutuhan

struktur organisasi pemerintahan ini.

---Bagaimana dengan koneksivitas empat pulau di

Wakatobi pada masa pemerintahan bapak?

Sudah

sampai dimana kemajuannya?

Karena daerah ini kita bawa pada daerah maritim

sehingga beberapa infrastruktur di empat pulau

ini harus terpenuhi. Usaha kita harus merangkai

empat pulau ini menjadi satu kesatuan yang

di dalamanya keinginan kita menghadirkan

transportasi yang terintegrasi.

Alhamdulillah

2018 Pemda telah mendapatkan alokasi anggaran Rp

5 miliar, sebagai langkah awal untuk memulai

pembangunanya. Dan rembes terakhir Dermaga Feri

di Pulau Kaledupa 2019 teralokasi Rp 21 miliar,

dan diharapkan Dermaga Feri Kaledupa tuntas

2019.

Demikian juga dengan Pulau Tomia dan

Binongko kita sudah mulai tahun ini dan rilis

terakhir anggarannya telah terploting Rp 5

miliar untuk Pulau Tomia dan Rp 5 miliar untuk

Binongko. Diharapkan 2020 feri yang

menghubungkan empat pulau ini fasilitasnya sudah

terbangun semua.

----Aksesibilitas sudah lancar semua?

Ya, jadi diharapkan memang dermaga feri tuntas

2020, paling lambat 2021 sudah akan selesai, dan

mudah-mudahan sudah bisa operasi juga kapalnya.

Karena kemarin saat saya audiensi dengan Menteri

Perhubungan sudah menyampaikan bahwa sebetulnya

bukan fasilitas dermaganya, termasuk perencaan

armadanya juga sudah menyiapkan sehingga bisa

beroperasi tahun 2021.

Nah keinginannya, sebetulnya bukan hanya

semata-mata membingkai empat pulau di Wakatobi,

tapi Pemerintah Pusat memiliki rencana besar

agar masyarakat Wakatobi yang ada di Flores

ketika dermaga feri ini sudah terbangun maka

Kementerian Perhubungan akan mengintervensi agar

ada ASDP yang dari Flores masuk ke Wakatobi,

kemudian di daratan Lasalimu, dan terakhir akan

conect, jalan.

---Berarti sudah lintas propinsi?

Sudah lintas propinsi, insya Allah.

---Bicara Wakatobi tidak hanya Wangiwangi, tapi

juga sampai di ujung bisa terkoneksi.

Ya, ada usaha-usaha lain sebetulnya yang

membutuhkan energi, terutama Pulau Binongko yang

didalamnya kadang-kadang kita terbentur dengan

alokasi anggaran yang bersumber dari APBN atau

DAK yang selama ini kita perjuangkan. DAK punya

kriteria karena walaupun di dalamnya ada

kekhususan, tapi terdapat pertimbangan ekonomis

yang dilihat pemerintah pusat untuk

mengalokasikan ke daerah-daerah tertentu.

Bahwa DAK punya regulasi untuk diperuntukkan

dibeberapa kabupaten, Binongko katakan tidak

tersentuh. Tapi kita akan upayakan agar sisa DAU

bisa kita alokasikan untuk membangun

infrastruktur disana.

---Bagaimana dengan progres listrik dan air

bersih?

Program pemerintah pusat untuk menuntaskan air

bersih terutama di 10 destinasi ini, tuntas

tahun 2019. 2018 ini khusus untuk ibukota ini

hampir semua jaringan perpipaan untuk masuk di

kawasan pemukiman masyarakat sudah terlintasi

pipa air bersih, dan sebagian wilayah ini

alhamdulllah masyarakat sudah terlayani air

bersih dari PDAM.

Nah 2017 kemarin kita mendapatkan alokasi

anggaran sekitar Rp 17 miliar untuk bantuan

instalasi perpipaan dan tahun ini ditambahkan

lagi menjadi Rp 30 miliar lebih. Program ini

sebetulnya di dalamnya ada sharing pendanaan

dengan Pemda untuk memberikan sambungan secara

gratis kepada masyarakat, dan sudah kita

alokasikan lewat APBD. Sehingga ketika terpasang

maka dengan sendirinya anggaran akan kembali

lagi ke daerah.

Tahun ini telah disurvei juga di Kaledupa bahkan

sampai Binongko diharapkan 2019, 2020 khusus

untuk fasilitas air bersih telah teraolaksi

lewat APBN, insya Allah sudah tuntas di

Wakatobi.

--Bagaimana dengan listrik?

Listrik sedikit pelit juga urusannya, bahkan

walaupun pelit, saya pun tidak akan mundur

terhadap berbagai persoalan terutama terhadap

listrik. Kita juga telah berjuang dan 2018 ini,

Pulau Tomia sudah bisa menyala dari 12 jam

menjadi 24 jam. Kemudian tahun ini akan upayakan

agar Kaledupa sudah bisa hadir genset berskala

besar dan mudah-mudahan sudah akan menyala

sampai 24 jam.

Disamping usaha-usaha ini saya pun juga sudah

bersurat ke Kementerian ESDM agar menjadi

perhatian di kementerian, agar semua wilayah ini

mudah-mudahan tidak ada kendala lagi dengan

masalah listrik. Karena alasannya sangat kuat,

10 destinasi dan setiap pelaku ekonomi

pariwisata mau invest pariwisata di daerah

rata-rata yang menjadi evaluasi pertama adalah

listrik.

Sehingga ketika daerah ini sudah mendapatkan

pengakuan dari negara, menjadi 10 top destinasi

nasional, maka diharapkan semua fasilitas ini

sudah harus terbangun di daerah. Termasuk

Kementarian Pariwisata juga telah mendorong agar

Badan Otoritas Pariwisata (BOP) di daerah bisa

segera mungkin keluar Perpresnya agar semua

kesulitan, dan fasilitas yang diharapkan

terbangun untuk mendukung pariwasata Wakatobi

cepat ditangani pemerintah pusat.

---Jadi BOP ini diupayakan secepatnya?

Kita sudah progres. Bahkan kemarin pak Sekda dan

Dinas Pariwisata telah melihat kembali draft

Perpres yang telah diajukan Kemenko Maritim

untuk dilihat kembali agar ketika Perpres ini

diteken presiden maka mudah-mudahan tidak ada

kendala lagi. Dan Kementerian Pariwisata sudah

menjanjikan paling lambat awal 2019 presiden

sudah akan teken Perpres.

---Apa berkah BOP yang bisa dipetik Pemda dan

masyarakat?

Badan Otoritas ini sebetulnya adalah sebuah

kebijakan yang dilakukan presiden untuk

mendorong perkembangan daerah. Bukan hanya satu

aspek saja, tapi banyak, karena diharapkan

penetapan 10 destinasi ini jawaban kejenuhan

orang datang di Bali, dan ada alternatif lain

dikunjungi pecinta pariwisata, sehingga

infrastrukturnya harus didorong dan dibangun

agar target 2019 di kepemimpinan Bapak Presiden

ini sudah tertangani semua kebutuhannya.

Sehingga saya optimis ketika BOP sudah diteken

presiden maka semua aspek sudah terbangun dengan

cepat.

---Bagaimana teknik bapak dalam menggerakkan

sektor ril di masyarakat. Karena di tengah

kondisi lesunya ekonomi seperti ini, Wakatobi

beda?

Sebetulnya tidak ada yang luar biasa, semua ini

sebenarnya bergerak secara dinamis, bahwa saya

selaku Bupati Wakatobi setiap tahun hanya

mengevaluasi. Dari hasil rilis BPS sejauh mana

kira-kira naik turunnya dari sebuah kebijakan

yang telah kita lakukan setiap tahun. Jadi

katakan tahun 2017 naiknya angka pertumbuhan

hanya satu dua digit, apa yang menyebabkan

lambat tingkat pertumbuhan ekonomi Wakatobi?

Dari segi kebijakan yang kita lakukan lewat APBD

apa yang salah. Saya evaluasi total.

Lalu kemudian ternyata uang Wakatobi masih

banyak mengalir ke luar, dibanding terbelanjakan

di dalam daerah, sehingga kebijakannya juga

mulai saya rubah. Bahwa kita harus perbanyak di

dalam daerah sehingga dinamika ekonomi dalam

daerah bisa berkembang dan tumbuh. Dan memang

tahun ini pasti berbeda dengan tahun sebelumnya.

Kemudian saya juga selalu menginstruksikan

kepada seluruh jajaran organisasi perangkat

daerah (OPD) agar melihat celah dimana kira-kira

kebijakan yang telah kita lakukan belum banyak

menyentuh para pelaku ekonomi daerah. Sehingga

ada kebijakan lain juga yang harus saya lakukan

disetiap OPD. Katakan untuk transportasi dan

perhotelan di daerah ini kalau mau tumbuh dan

berkembang yang harus disentuh dari kebijakan

Pemda, maka harus ada intervensi melakukan

berbagai kegiatan di Binongko, Tomia, dan

Kaledupa. Salah satunya efek dari iven yang kita

laksanakan disetiap pulau. Ini juga merupakan

bagian dari kebijakan untuk menyentuh para

pelaku ekonomi di daerah ini agar mudah-mudahan

dengan itu mereka bisa merasakan dampak kegiatan

pembangunan di daerah.

---Apa hal strategis yang diambil untuk tahun

depan agar dinamika Wakatobi lebih kuat lagi?

Kita tetap mengevaluasi dari setiap kebijakan

yang kita lakukan setiap tahun. Mimpi saya

sebetulnya tahun depan, disamping usaha-usaha

yang telah kita lakukan, dan memang ada yang

berbeda yang kita lakukan. Kalau selama ini ada

rencana daerah yang sifatnya sedikit pesimis,

tapi saya mengatakan bahwa perencanaan daerah

harus optimis. Tergantung dari pusat akan

menilai kita dan kita akan diberikan berapa,

bahwa PR harus dibangun cukup banyak. Apalagi

daerah ini sudah menjadi perhatian pemerintah

pusat bahwa semua aspek yang butuh untuk

disentuh harus masuk dalam RKPD Pemda untuk

didorong ke Pemprov, dan Pemerintah Pusat

mudah-mudahan ada kebijakan dari berbagai usulan

yang kita lakukan setiap tahun.

Pada 2019 diharapkan dari program kita,

khususnya di pelayanan dasar, bidang kesehatan

diharapkan semua fasilitasnya sudah terbangun.

Kita tahun depan sekitar Rp 70 miliar lebih

teralokasi dari Kemenkes untuk memperbaiki

fasilitas kesehatan. Karena memang beralasan,

kita tetap berharap bahwa masyarakat Wakatobi,

100 persen sudah memagang kartu kesehatan lewat

BPJS agar bisa memudahkan masyarakat beropat di

tempat layanan yang sudah bekerjasama dengan

BPJS.

Ini sangat luar biasa.

Kesehatannya sudah kita

berikan, pendidikan anak-anak kita berikan

bantuan agar mereka tidak putus sekolah. Kita

sudah umrahkan.

Dan dari fasilitas pribadi saya, terutama kapal

dari Wanci ke Kendari, atau bahkan dimana saja

yang ada fasilitas pribadi saya, terutama

transportasi laut, saya berikan keringanan 50

persen bagi warga Wakatobi. Sehingga saya

berpikir tinggal apa lagi yang harus saya

perbuat.

---Artinya rakyat merasakan kehadiran pemerintah

ketika dibutuhkan?

Isnya Allah, kalau semua ini kita sudah

persembahkan kepada masyarakat, dan kita sudah

bekerja untuk melakukan beberapa loncatan untuk

mempercepat proses pembangunan di daerah,

termasuk fasilitas pribadi saya berikan,

terserah masyarakat yang akan menilai.

---Terakhir, apa harapan bapak kepada

masyarakat?

Saya merasa bangga dan berterimakasih kepada

masyarakat saya di Wakatobi, semua usaha dan

kegiatan yang kita lakukan dan beberapa capaian

yang kita raih, ini sebetulnya adalah usaha dan

kerja keras masyarakat yang sudah memahami

bagaimana pentingnya daerah ini untuk kita

dorong menjadi sebuah daerah pariwisata dan

didalamnya bagaimana kesiapan masyarakat kita

untuk menerima berbagai urusan dan budaya yang

masuk ke daerah ini. Sehingga budaya dan potensi

bawah lautnya, kita sudah mulai memahami sesuatu

yang sangat berharga dan harus dijaga.

Dan harus sama-sama bekerja untuk mendorong

semua ini, karena hadirnya beberapa alokasi

anggaran yang besar ke daerah ini, sebetulnya

bukan hanya kerja saya selaku bupati dan seluruh

OPD-nya tapi di dalamnya juga ada dukungan

masyarakat untuk memahami bagaimana pentingnya

daerah ini untuk menjadikannya sebagai daerah

pariwisata. (**)