Kiat Bupati H. Arhawi Menata Wakatobi

WAKATOBI bukan hanya milik Indonesia, tapi juga dunia. Bagaimana kiat Bupati H. Arhawi menata daerahnya? Berikut petikan wawancara wartawan Buton Pos, Irwansyah Amunu kepada duet Ilmiati Daud tersebut di Rujabnya, belum lama ini.
---Di tangan bapak, pembangunan Wakatobi sampai di mana?
Daerah ini harus dibangun secara estafet, Pak
Hugua dua periode dan kemudian di periode
terakhirnya saya menjadi wakilnya. Tentu daerah
ini akan melihat progresnya apabila dari
kepemimpinan-kepemimpinan tetap bersinergi
tertutama program yang selama ini memang sudah diniatkan oleh pemimpin dan masyarakatnya. Terutama Wakatobi sebagai daerah pariwisata kemudian di dalamnya sektor perikanan tetap menjadi unggulan.
Nah, pada 2016 setelah saya mendapat mandat dari masyarakat maka dari dua leading sektor itu saya tambah bagaimana memahami kultur masyarakat yang selama ini turun-temurun, menjadi daerah dimana perdagangan antar pulau penting untuk diperhatikan pemerintah. Sehingga visi daerah ini dari surga nyata bawah laut kita bawa menjadi bagaimana kita harus jadikan menjadi kabupaten maritim yang sejahtera dan berdaya saing.
Alasannya, bahwa Wakatobi 1,36 juta kilometer,
tiga persennya darat. Sehingga konsentrasi
pembangunan sekarang tetap masih memaksimalkan di sektor perikanan dan kelautan termasuk di dalamnya potensi bawah laut Wakatobi yang memiliki keunikan, ragam, dan jenis ikan yang selama ini telah kita proklamirkan.
Nah, dari niat besar 10 tahun dan di dalamnya
lima tahun saya bersama-sama dengan Pak Hugua
sangat tidak elok kalau apa yang telah
diletakkan 10 tahun putus. Karena saya memahami
betul tentang bagaimana cita-cita bersama
membangun daerah ini yang di dalamnya kekuatan
kita yang terbesar di laut.
Bagaimana kekuatan ini tetap didorong, gali, dan
bahkan angkat agar mudah-mudahan potensi ini
bisa kita persembahkan untuk kesejahteraan
masyarakat Wakatobi. Kesejahteraan ini
sebetulnya tidak mudah didapat karena banyak hal
yang harus kita persiapkan di daerah. Terutama
bagaimana sumber daya manusianya saat daerah ini
kita proklamirkan menjadi destinasi pariwisata.
Sehingga penting persiapan sumber daya manusia
agar memiliki daya saing.
Kemudian dalam waktu
bersamaan, karena daerah ini sudah diletakkan 10
tahun oleh Pak Hugua dan di dalamnya bersama-sama
dengan saya, maka saya melanjutkan, sehingga
daerah ini telah mendapatkan pengakuan dari
Kementerian Parwisata menjadi salah satu daerah
dari 100 daerah yang sudah masuk dalam kalender
iven nasional.
Pengakuan itu sebetulnya lahir juga dari
penetapan Presiden Indonesia menjadi salah satu
dari 10 top destinasi pariwisata nasional.
Sehingga daerah ini juga telah kita ditetapkan
oleh Kementerian Pariwisata menjadi satu daerah
yang memiliki kalender iven setiap tahunnya. Dan
kegiatan ini sebetulnya telah disupport oleh
Kementerian Pariwisata dan daerah ini sudah
merupakan bagian dari Indoensia yang harus
didorong dipromasikan menjadi salah satu
destinasi di Indonesia.
Kemudian daerah ini Saya kira juga kita butuh
setelah menjadi salah satu destinasi pariwisata
nasional, tentu masyarakatnya juga harus punya
filter yang kuat terhadap berbagai budaya yang
akan masuk ke daerah. Sehingga pemerintah pun
memiliki program untuk bagaimana daerah ini
tetap terjaga dan terpelihara eksistensinya
terhadap agama yang dianut selama ini.
Sehingga walaupun sudah terbuka untuk siapa
Wakatobi ini, maka diharapkan masyarakatnya
tetap tidak terpengaruh dari budaya luar.
Sehingga ada program kita di dalamnya bagaimana
harus memperkuat tempat-tempat pengajian Alquran
di seluruh wilayah Wakatobi. Dan sudah kita
lakukan, disetiap lingkungan diharapkan ada
tempat pengajian Alquran dibiayai Pemda untuk
melakukan kerja-kerja sosial agar mencerdaskan
anak kita terhadap baca Alquran.
Kebijakan ini juga diikuti dengan keputusan
bupati agar anak-anak kita yang masuk di setiap
jenjang pendidikan paling tidak sudah memahami
baca Alquran.
Demikian juga beberapa program
lainnya seperti memberikan penghargaan terhadap
para umat yang mengabdikan diri di kegiatan-
kegiatan Islam ini baik majelis taklim atau kita
percaya mengajarkan anak-anak kita mengajarkan
Alquran, diseleksi untuk diumrahkan setiap tahun
50 orang.
Sehingga diharapkan daerah ini walaupun sudah
menjadi milik dunia, tetapi nilai Islam dan
budaya dalam rangka mendukung pariwisata tetap
digali, dijaga, dipertahakan, bahkan setiap
tahun kita adakan iven di setiap pulau, dan
puncaknya di Wakatobi Wave, kemarin.
Sebetulnya
itu adalah akumulasi dari beberapa budaya yang
dimiliki empat pulau ini, misalnya Tari Balumpa,
Sajo Moane, Lariangi dari Kaledupa, kemudian
Wangiwangi dengan Kansoda dan Lengko-nya, adalah
sesuatu potensi budaya yang memiliki keragaman.
Meski wilayahnya kecil tapi sangat luar biasa
daerah ini dibanding dengan beberapa daerah
lainnya.
Kadang-kadang luas wilayahnya begitu
besar tapi tidak memiliki keragaman budaya
seperti di Wakatobi. Inilah sebetulnya menjadi
kekuatan, disamping potensi bawah laut yang kita
miliki.
Kemudian daerah ini telah mendapatkan pengakuan
dari Unesco untuk menjadi salah satu cagar
biosfer dunia. Sehingga positioning Wakatobi
sangat luar biasa terhadap berbagai usaha
terhadap bagaimana daerah yang sudah masuk di
taman nasional, dan pengakuan Unesco. Kita
menjaganya dengan melakukan berbagai program
untuk menjaga daerah ini terutama ihwal
lingkungan, sampah, dan lainnya merupakan
prioritas yang harus didorong pemerintah.
Sehingga nama Wakatobi yang cukup tersohor ini
mudah-mudahan dari segala aspek sudah kita
persembahkan dan memiliki nilai bahwa ternyata
pantaslah Wakatobi dijadikan salah satu top
destinasi pariwisata nasional.
---Jadi luar biasa, bapak diberi amanah bukan
saja sebagai kepala daerah, tapi juga memenuhi
tanggung jawab dan kepercayaan dunia?
Ya, sangat luar biasa, karena Wakatobi ini
setelah ditetapkan pemerintah pusat dan Unesco
sudah mengakuinya, sebetulnya bukan milik
masyarakat Wakatobi lagi tapi masyarakat dunia.
Sehingga pengelolaan dan pengendaliannya sudah
lebih komprehensif agar mudah-mudahan beberapa
pengakuan dari pemerintah pusat dan dunia, insya
Allah bisa kita jaga dan pelihara.
---Bagaimana dengan daya dukung infrastruktur?
Seperti yang saya sampaikan tadi bahwa saya
mendampingi Pak Hugua sebagai wakil bupati, saya
pahami bahwa 10 tahun Wakatobi menjadi daerah
otonom yang sudah dipimpin bupati definitif.
Langkah pertama memang dari potensi yang kita
miliki kalau kita tidak angkat dan promososikan
maka daerah ini tidak akan memiliki nilai apa-
apa. Sehingga dengan terpromosianya daerah ini
dan sudah dikenal Indonesia dan dunia, maka
kewajiban saya selanjutnya yang melanjutkan ini
bagaimana harus mengisi berbagai kekosongan yang
belum terisi selama 10 tahun.
Yang paling penting saya lihat bagaimana
penataan infrastruktur daerah, dengan luas
wilayah tiga persen darat. Karena bisa saja
kalau peletakannya tidak tepat, maka potensi
yang kita miliki tidak akan memiliki nilai apa-
apa.
Pertama saya dilantik, saya melaksanakakan
kerjasama dengan Universitas Hasanuddin untuk
menghadirkan berbagai ahli agar memotret daerah
ini. Dan bagaimana harus terdesain detail
ruangnya agar keterbatasan wilayah bisa diatur
sedemikian rupa agar pemanfaatan berbagai lahan
yang sangat terbatas, insya Allah bisa ditata
dan dikelola secara maksimal sehingga tidak
saling bersinggungan dan melemahkan apa yang
sudah kita miliki hari ini.
Katakan daerah ini butuh sebuah kawasan untuk
serapan air yang tinggal didalamnya, itu juga
sudah terdesain dan ter-ploting. Sehingga
beberapa kawasan yang sudah ter-ploting kita
jaga agar tidak dijadikan pemukiman atau
tempat-tempat pengembangan baru. Khususnya
kawasan yang ketika investor hadir maka tidak
akan terganggu lagi kawasan yang ter-ploting
itu.
Bahwa kita butuh parawisata yang sifatnya
massif, tapi tetap juga kita perhatikan beban
daerah ini, agar insya Allah tidak terganggu
dengan berbagai usaha yang kita lakukan di
daerah ini. Sehingga kita juga harus lebih
selektif melihat investor yang masuk untuk
menanamkan modal berinvestasi di bidang
pariwisata, sehingga mudah-mudahan kerja keras
yang kita lakukan dan mulai kita mem-ploting
beberapa kawasan yang di-ploting, itulah yang
akan kita arahkan untuk pengembangan ke depan.
---Salah satunya mungkin bisa dijelaskan
pembangunan kantor bupati yang mulai dikerjakan
tahun ini?
Kantor bupati kenapa penting harus kita bangun,
karena memang perubahan dari PP 41 ke PP 18
tentang perubahan struktur pemerintah daerah.
Kemudian di dalamnya ada rencana aksi yang sudah
kita lakukan dengan KPK untuk bagaimana kita
memberikan Tukin (tunjungan kinerja) kepada
aparatur sipil negara, maka ini juga harus kita
menyesuikan dengan kebutuhan sarana dan
prasarana perkantoran.
Katakan di PP 18 setelah
kita kaji tentang Anjab (analisis jabatan)
ternyata fasilitas hari ini tidak bisa menampung
lagi. Sehingga kebijakannya kita harus membangun
perkantoran baru untuk menyesuaikan kebutuhan
struktur organisasi pemerintahan ini.
---Bagaimana dengan koneksivitas empat pulau di
Wakatobi pada masa pemerintahan bapak?
Sudah
sampai dimana kemajuannya?
Karena daerah ini kita bawa pada daerah maritim
sehingga beberapa infrastruktur di empat pulau
ini harus terpenuhi. Usaha kita harus merangkai
empat pulau ini menjadi satu kesatuan yang
di dalamanya keinginan kita menghadirkan
transportasi yang terintegrasi.
Alhamdulillah
2018 Pemda telah mendapatkan alokasi anggaran Rp
5 miliar, sebagai langkah awal untuk memulai
pembangunanya. Dan rembes terakhir Dermaga Feri
di Pulau Kaledupa 2019 teralokasi Rp 21 miliar,
dan diharapkan Dermaga Feri Kaledupa tuntas
2019.
Demikian juga dengan Pulau Tomia dan
Binongko kita sudah mulai tahun ini dan rilis
terakhir anggarannya telah terploting Rp 5
miliar untuk Pulau Tomia dan Rp 5 miliar untuk
Binongko. Diharapkan 2020 feri yang
menghubungkan empat pulau ini fasilitasnya sudah
terbangun semua.
----Aksesibilitas sudah lancar semua?
Ya, jadi diharapkan memang dermaga feri tuntas
2020, paling lambat 2021 sudah akan selesai, dan
mudah-mudahan sudah bisa operasi juga kapalnya.
Karena kemarin saat saya audiensi dengan Menteri
Perhubungan sudah menyampaikan bahwa sebetulnya
bukan fasilitas dermaganya, termasuk perencaan
armadanya juga sudah menyiapkan sehingga bisa
beroperasi tahun 2021.
Nah keinginannya, sebetulnya bukan hanya
semata-mata membingkai empat pulau di Wakatobi,
tapi Pemerintah Pusat memiliki rencana besar
agar masyarakat Wakatobi yang ada di Flores
ketika dermaga feri ini sudah terbangun maka
Kementerian Perhubungan akan mengintervensi agar
ada ASDP yang dari Flores masuk ke Wakatobi,
kemudian di daratan Lasalimu, dan terakhir akan
conect, jalan.
---Berarti sudah lintas propinsi?
Sudah lintas propinsi, insya Allah.
---Bicara Wakatobi tidak hanya Wangiwangi, tapi
juga sampai di ujung bisa terkoneksi.
Ya, ada usaha-usaha lain sebetulnya yang
membutuhkan energi, terutama Pulau Binongko yang
didalamnya kadang-kadang kita terbentur dengan
alokasi anggaran yang bersumber dari APBN atau
DAK yang selama ini kita perjuangkan. DAK punya
kriteria karena walaupun di dalamnya ada
kekhususan, tapi terdapat pertimbangan ekonomis
yang dilihat pemerintah pusat untuk
mengalokasikan ke daerah-daerah tertentu.
Bahwa DAK punya regulasi untuk diperuntukkan
dibeberapa kabupaten, Binongko katakan tidak
tersentuh. Tapi kita akan upayakan agar sisa DAU
bisa kita alokasikan untuk membangun
infrastruktur disana.
---Bagaimana dengan progres listrik dan air
bersih?
Program pemerintah pusat untuk menuntaskan air
bersih terutama di 10 destinasi ini, tuntas
tahun 2019. 2018 ini khusus untuk ibukota ini
hampir semua jaringan perpipaan untuk masuk di
kawasan pemukiman masyarakat sudah terlintasi
pipa air bersih, dan sebagian wilayah ini
alhamdulllah masyarakat sudah terlayani air
bersih dari PDAM.
Nah 2017 kemarin kita mendapatkan alokasi
anggaran sekitar Rp 17 miliar untuk bantuan
instalasi perpipaan dan tahun ini ditambahkan
lagi menjadi Rp 30 miliar lebih. Program ini
sebetulnya di dalamnya ada sharing pendanaan
dengan Pemda untuk memberikan sambungan secara
gratis kepada masyarakat, dan sudah kita
alokasikan lewat APBD. Sehingga ketika terpasang
maka dengan sendirinya anggaran akan kembali
lagi ke daerah.
Tahun ini telah disurvei juga di Kaledupa bahkan
sampai Binongko diharapkan 2019, 2020 khusus
untuk fasilitas air bersih telah teraolaksi
lewat APBN, insya Allah sudah tuntas di
Wakatobi.
--Bagaimana dengan listrik?
Listrik sedikit pelit juga urusannya, bahkan
walaupun pelit, saya pun tidak akan mundur
terhadap berbagai persoalan terutama terhadap
listrik. Kita juga telah berjuang dan 2018 ini,
Pulau Tomia sudah bisa menyala dari 12 jam
menjadi 24 jam. Kemudian tahun ini akan upayakan
agar Kaledupa sudah bisa hadir genset berskala
besar dan mudah-mudahan sudah akan menyala
sampai 24 jam.
Disamping usaha-usaha ini saya pun juga sudah
bersurat ke Kementerian ESDM agar menjadi
perhatian di kementerian, agar semua wilayah ini
mudah-mudahan tidak ada kendala lagi dengan
masalah listrik. Karena alasannya sangat kuat,
10 destinasi dan setiap pelaku ekonomi
pariwisata mau invest pariwisata di daerah
rata-rata yang menjadi evaluasi pertama adalah
listrik.
Sehingga ketika daerah ini sudah mendapatkan
pengakuan dari negara, menjadi 10 top destinasi
nasional, maka diharapkan semua fasilitas ini
sudah harus terbangun di daerah. Termasuk
Kementarian Pariwisata juga telah mendorong agar
Badan Otoritas Pariwisata (BOP) di daerah bisa
segera mungkin keluar Perpresnya agar semua
kesulitan, dan fasilitas yang diharapkan
terbangun untuk mendukung pariwasata Wakatobi
cepat ditangani pemerintah pusat.
---Jadi BOP ini diupayakan secepatnya?
Kita sudah progres. Bahkan kemarin pak Sekda dan
Dinas Pariwisata telah melihat kembali draft
Perpres yang telah diajukan Kemenko Maritim
untuk dilihat kembali agar ketika Perpres ini
diteken presiden maka mudah-mudahan tidak ada
kendala lagi. Dan Kementerian Pariwisata sudah
menjanjikan paling lambat awal 2019 presiden
sudah akan teken Perpres.
---Apa berkah BOP yang bisa dipetik Pemda dan
masyarakat?
Badan Otoritas ini sebetulnya adalah sebuah
kebijakan yang dilakukan presiden untuk
mendorong perkembangan daerah. Bukan hanya satu
aspek saja, tapi banyak, karena diharapkan
penetapan 10 destinasi ini jawaban kejenuhan
orang datang di Bali, dan ada alternatif lain
dikunjungi pecinta pariwisata, sehingga
infrastrukturnya harus didorong dan dibangun
agar target 2019 di kepemimpinan Bapak Presiden
ini sudah tertangani semua kebutuhannya.
Sehingga saya optimis ketika BOP sudah diteken
presiden maka semua aspek sudah terbangun dengan
cepat.
---Bagaimana teknik bapak dalam menggerakkan
sektor ril di masyarakat. Karena di tengah
kondisi lesunya ekonomi seperti ini, Wakatobi
beda?
Sebetulnya tidak ada yang luar biasa, semua ini
sebenarnya bergerak secara dinamis, bahwa saya
selaku Bupati Wakatobi setiap tahun hanya
mengevaluasi. Dari hasil rilis BPS sejauh mana
kira-kira naik turunnya dari sebuah kebijakan
yang telah kita lakukan setiap tahun. Jadi
katakan tahun 2017 naiknya angka pertumbuhan
hanya satu dua digit, apa yang menyebabkan
lambat tingkat pertumbuhan ekonomi Wakatobi?
Dari segi kebijakan yang kita lakukan lewat APBD
apa yang salah. Saya evaluasi total.
Lalu kemudian ternyata uang Wakatobi masih
banyak mengalir ke luar, dibanding terbelanjakan
di dalam daerah, sehingga kebijakannya juga
mulai saya rubah. Bahwa kita harus perbanyak di
dalam daerah sehingga dinamika ekonomi dalam
daerah bisa berkembang dan tumbuh. Dan memang
tahun ini pasti berbeda dengan tahun sebelumnya.
Kemudian saya juga selalu menginstruksikan
kepada seluruh jajaran organisasi perangkat
daerah (OPD) agar melihat celah dimana kira-kira
kebijakan yang telah kita lakukan belum banyak
menyentuh para pelaku ekonomi daerah. Sehingga
ada kebijakan lain juga yang harus saya lakukan
disetiap OPD. Katakan untuk transportasi dan
perhotelan di daerah ini kalau mau tumbuh dan
berkembang yang harus disentuh dari kebijakan
Pemda, maka harus ada intervensi melakukan
berbagai kegiatan di Binongko, Tomia, dan
Kaledupa. Salah satunya efek dari iven yang kita
laksanakan disetiap pulau. Ini juga merupakan
bagian dari kebijakan untuk menyentuh para
pelaku ekonomi di daerah ini agar mudah-mudahan
dengan itu mereka bisa merasakan dampak kegiatan
pembangunan di daerah.
---Apa hal strategis yang diambil untuk tahun
depan agar dinamika Wakatobi lebih kuat lagi?
Kita tetap mengevaluasi dari setiap kebijakan
yang kita lakukan setiap tahun. Mimpi saya
sebetulnya tahun depan, disamping usaha-usaha
yang telah kita lakukan, dan memang ada yang
berbeda yang kita lakukan. Kalau selama ini ada
rencana daerah yang sifatnya sedikit pesimis,
tapi saya mengatakan bahwa perencanaan daerah
harus optimis. Tergantung dari pusat akan
menilai kita dan kita akan diberikan berapa,
bahwa PR harus dibangun cukup banyak. Apalagi
daerah ini sudah menjadi perhatian pemerintah
pusat bahwa semua aspek yang butuh untuk
disentuh harus masuk dalam RKPD Pemda untuk
didorong ke Pemprov, dan Pemerintah Pusat
mudah-mudahan ada kebijakan dari berbagai usulan
yang kita lakukan setiap tahun.
Pada 2019 diharapkan dari program kita,
khususnya di pelayanan dasar, bidang kesehatan
diharapkan semua fasilitasnya sudah terbangun.
Kita tahun depan sekitar Rp 70 miliar lebih
teralokasi dari Kemenkes untuk memperbaiki
fasilitas kesehatan. Karena memang beralasan,
kita tetap berharap bahwa masyarakat Wakatobi,
100 persen sudah memagang kartu kesehatan lewat
BPJS agar bisa memudahkan masyarakat beropat di
tempat layanan yang sudah bekerjasama dengan
BPJS.
Ini sangat luar biasa.
Kesehatannya sudah kita
berikan, pendidikan anak-anak kita berikan
bantuan agar mereka tidak putus sekolah. Kita
sudah umrahkan.
Dan dari fasilitas pribadi saya, terutama kapal
dari Wanci ke Kendari, atau bahkan dimana saja
yang ada fasilitas pribadi saya, terutama
transportasi laut, saya berikan keringanan 50
persen bagi warga Wakatobi. Sehingga saya
berpikir tinggal apa lagi yang harus saya
perbuat.
---Artinya rakyat merasakan kehadiran pemerintah
ketika dibutuhkan?
Isnya Allah, kalau semua ini kita sudah
persembahkan kepada masyarakat, dan kita sudah
bekerja untuk melakukan beberapa loncatan untuk
mempercepat proses pembangunan di daerah,
termasuk fasilitas pribadi saya berikan,
terserah masyarakat yang akan menilai.
---Terakhir, apa harapan bapak kepada
masyarakat?
Saya merasa bangga dan berterimakasih kepada
masyarakat saya di Wakatobi, semua usaha dan
kegiatan yang kita lakukan dan beberapa capaian
yang kita raih, ini sebetulnya adalah usaha dan
kerja keras masyarakat yang sudah memahami
bagaimana pentingnya daerah ini untuk kita
dorong menjadi sebuah daerah pariwisata dan
didalamnya bagaimana kesiapan masyarakat kita
untuk menerima berbagai urusan dan budaya yang
masuk ke daerah ini. Sehingga budaya dan potensi
bawah lautnya, kita sudah mulai memahami sesuatu
yang sangat berharga dan harus dijaga.
Dan harus sama-sama bekerja untuk mendorong
semua ini, karena hadirnya beberapa alokasi
anggaran yang besar ke daerah ini, sebetulnya
bukan hanya kerja saya selaku bupati dan seluruh
OPD-nya tapi di dalamnya juga ada dukungan
masyarakat untuk memahami bagaimana pentingnya
daerah ini untuk menjadikannya sebagai daerah
pariwisata. (**)