Berita Terkini
Wakatobi

WakatobiAIS dari Indonesia untuk Dunia (1)

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Selasa, 11 Desember 2018 20:23 WIB · 3 menit baca
WakatobiAIS dari Indonesia untuk Dunia (1)
Akmatul Ferlin

WAKATOBIAIS merupakan inovasi anak bangsa dari

institusi yang dipimpin seorang putra Buton, Akmatul Ferlin. Bagaimana cara kerjanya?

Laporan: Irwansyah Amunu, Wakatobi

PEMERINTAH RI boleh berbangga dengan inovasi

Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) Wakatobi dipimpin Akmatul Ferlin yang

menghasilkan WakatobiAIS. Alat ini merupakan terobosan mutakhir, untuk memudahkan pemantauan

dan meningkatkan keselamatan pelayaran.

Sepintas namanya sama dengan Wakatobi merupakan akronim dari gugusan empat pulau, Wangiwangi,

Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Namun berdasarkan brosur, WakatobiAIS adalah perpaduan antara akronim dan singkatan dari Wahana Keselamatan dan Pemantauan Obyek Berbasis Automatic Identification System.

Apa itu AIS? AIS adalah sebuah sistem pelacakan otomatis digunakan pada kapal dan dengan

pelayanan lalu lintas kapal (VTS) untuk mengidentifikasi dan menemukan kapal oleh elektronik pertukaran data dengan kapal lain di dekatnya, BTS AIS, dan satelit. IMO mewajibkan semua kapal di atas 300 gross tonnes (GT) dan

kapal penumpang memasang AIS (SOLAS Chapter). AIS bekerja pada frekwensi VHF daya 2 dan 12,5

watt.

WakatobiAIS adalah alat hasil perekayasaan LPTK berupa transponder AIS berukuran kecil yang dirancang meningkatkan keselamatan nelayan khususnya nelayan kecil yang menggunakan perahu atau kapal berbobot kurang dari 3 GT, serta meningkatkan nelayan terpantau untuk mencegah

IUU fishing.

Ukuran transponder, boks 14,5x13x20 cm, antena 100 cm, berat 0,6 kg. Daya tahan baterai hingga dua hari, dan dapat diisi ulang.

WakatobiAIS menawarkan fitur, pertama, Automatic Track. Secara periodik WakatobiAIS mengirimkan

data posisi sehingga target selalu terpantau berdasarkan track. "Automatik track kalau dinyalakan bisa diketahui pergerakannya kapal.

Seperti navigasi di HP. Bisa diperkirakan titik hilangnya dimana, jam berapa, bisa diprediksi

kecenderungannya dimana. Dielaborasi dengan data arus, angin, gelombang, kecenderungannya dimana

hilang vektor hanyutnya," ujar Arief Rahman ST, Perekayasa Pertama/Koordinator Laboratorium

Sistem Pemantauan Kelautan (Simlan) LPTK Wakatobi.

Kedua, Tag Data Survei. Saat tombol ditekan, WakatobiAIS mengirimkan lokasi digunakan untuk keperluas berbasis lokasi. Tombol hijau untuk data survei, ada nilai tambah lagi misalnya Pemda butuh sebaran dimana saja data ikan, tekan tombol hijau, bisa diperoleh hasil pemetaan yang

real time untuk pemerintah. Contoh lain survei daerah-daerah kunjungan ikan, rompon,

bertelurnya paus, hiu, tergantung untuk kepentingan apa digunakan.

Ketiga, Tombol Distress. Saat tombol ditekan, WakatobiAIS mengirimkan lokasi digunakan saat

darurat yang mengancam jiwa (distress).

"Kalau tekan tombol akan kirim ke semua mesin alat penerima, dan akan muncul di layar nelayan

A sedang mengalami distress lokasinya di koordinat tertentu, kemudian disebar. Di kapal

ada layar seperti tulisan pesan pendek SMS yang kirimkan data," ujar Arief.

Alat tersebut dibuat data teks yang memuat identitas kapal, sudah diinstal, otomatis terkirim koordinatnya. Kontennya berisi mohon bantuan secepatnya disertakan nomor kontak di

darat yang bisa dihubungi misalnya nomor Basarnas. Sehingga nelayan bisa ketahuan ada masalah tepat pada tepat saat kejadian, dan

nelayan atau kapal lain bisa bantu yang penting memiliki AIS.

Lebih penting lagi, ketiga fungsinya bisa digunakan pada semua perairan, bukan hanya di Wakatobi, bahkan di Amerika Serikat (AS). Bisa dibaca semua kapal.(****)