WakatobiAIS dari Indonesia untuk Dunia (1)

WAKATOBIAIS merupakan inovasi anak bangsa dari
institusi yang dipimpin seorang putra Buton, Akmatul Ferlin. Bagaimana cara kerjanya?
Laporan: Irwansyah Amunu, Wakatobi
PEMERINTAH RI boleh berbangga dengan inovasi
Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) Wakatobi dipimpin Akmatul Ferlin yang
menghasilkan WakatobiAIS. Alat ini merupakan terobosan mutakhir, untuk memudahkan pemantauan
dan meningkatkan keselamatan pelayaran.
Sepintas namanya sama dengan Wakatobi merupakan akronim dari gugusan empat pulau, Wangiwangi,
Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Namun berdasarkan brosur, WakatobiAIS adalah perpaduan antara akronim dan singkatan dari Wahana Keselamatan dan Pemantauan Obyek Berbasis Automatic Identification System.
Apa itu AIS? AIS adalah sebuah sistem pelacakan otomatis digunakan pada kapal dan dengan
pelayanan lalu lintas kapal (VTS) untuk mengidentifikasi dan menemukan kapal oleh elektronik pertukaran data dengan kapal lain di dekatnya, BTS AIS, dan satelit. IMO mewajibkan semua kapal di atas 300 gross tonnes (GT) dan
kapal penumpang memasang AIS (SOLAS Chapter). AIS bekerja pada frekwensi VHF daya 2 dan 12,5
watt.
WakatobiAIS adalah alat hasil perekayasaan LPTK berupa transponder AIS berukuran kecil yang dirancang meningkatkan keselamatan nelayan khususnya nelayan kecil yang menggunakan perahu atau kapal berbobot kurang dari 3 GT, serta meningkatkan nelayan terpantau untuk mencegah
IUU fishing.
Ukuran transponder, boks 14,5x13x20 cm, antena 100 cm, berat 0,6 kg. Daya tahan baterai hingga dua hari, dan dapat diisi ulang.
WakatobiAIS menawarkan fitur, pertama, Automatic Track. Secara periodik WakatobiAIS mengirimkan
data posisi sehingga target selalu terpantau berdasarkan track. "Automatik track kalau dinyalakan bisa diketahui pergerakannya kapal.
Seperti navigasi di HP. Bisa diperkirakan titik hilangnya dimana, jam berapa, bisa diprediksi
kecenderungannya dimana. Dielaborasi dengan data arus, angin, gelombang, kecenderungannya dimana
hilang vektor hanyutnya," ujar Arief Rahman ST, Perekayasa Pertama/Koordinator Laboratorium
Sistem Pemantauan Kelautan (Simlan) LPTK Wakatobi.
Kedua, Tag Data Survei. Saat tombol ditekan, WakatobiAIS mengirimkan lokasi digunakan untuk keperluas berbasis lokasi. Tombol hijau untuk data survei, ada nilai tambah lagi misalnya Pemda butuh sebaran dimana saja data ikan, tekan tombol hijau, bisa diperoleh hasil pemetaan yang
real time untuk pemerintah. Contoh lain survei daerah-daerah kunjungan ikan, rompon,
bertelurnya paus, hiu, tergantung untuk kepentingan apa digunakan.
Ketiga, Tombol Distress. Saat tombol ditekan, WakatobiAIS mengirimkan lokasi digunakan saat
darurat yang mengancam jiwa (distress).
"Kalau tekan tombol akan kirim ke semua mesin alat penerima, dan akan muncul di layar nelayan
A sedang mengalami distress lokasinya di koordinat tertentu, kemudian disebar. Di kapal
ada layar seperti tulisan pesan pendek SMS yang kirimkan data," ujar Arief.
Alat tersebut dibuat data teks yang memuat identitas kapal, sudah diinstal, otomatis terkirim koordinatnya. Kontennya berisi mohon bantuan secepatnya disertakan nomor kontak di
darat yang bisa dihubungi misalnya nomor Basarnas. Sehingga nelayan bisa ketahuan ada masalah tepat pada tepat saat kejadian, dan
nelayan atau kapal lain bisa bantu yang penting memiliki AIS.
Lebih penting lagi, ketiga fungsinya bisa digunakan pada semua perairan, bukan hanya di Wakatobi, bahkan di Amerika Serikat (AS). Bisa dibaca semua kapal.(****)