Diduga Ada Penimbunan Solar di Wakatobi, Nelayan tak Lagi Melaut

PUBLIKSATU, WAKATOBI - Ratusan massa dari Barisan Orator Masyarakat (BOM) Kepulauan Buton melakukan aksi demonstrasi. Aksi ini soal Mencuatnya harga Bahan bakar minyak (BBM) jenis solar hingga Rp mencapai 220 ribu per jeriken ukuran 20 liter.
Pendemo mengambil rute Desa Waha-Desa Mola Pasar Sudah-Pasar Pagi-Polres Wakatobi-Dinas Perindag-Dinas Perizinan, DPRD Wakatobi hingga berakhir bentrok dengan aparat di Kantor Bupati, (12/12) kemarin.
Terjadinya kelangkaan BBM jenis solar ini terjadi di masing-masing Agen Penyalur Minyak Solar (APMS) pulau Wangi-wangi, yang terindikasi adanya penimbunan yang memicu naiknya harga solar hingga mencapai 220 ribu per jeriken 20 liter yang di jual para pengencer solar.
Dengan adanya kenaikan tersebut, sehingga mengakibatkan banyaknya masyarakat nelayan enggan untuk turun memancing.
Korlap aksi BOM Kepton, Roziq Arifin dalam orasinya mengungkapkan, program Pemerintah Wakatobi Bersinar harusnya saat ini sudah mulai diterapkan secara kesuluruhan untuk semua masyarakat terutama terhadap para nelayan.
"Karena saat ini, banyak masyarakat terutama nelayan banyak yang menjerit karena adanya kenaikan BBM jenis Solar di masing-masing APMS serta terpaksa mengurungkan niatnya untuk mencari ikan di laut," tandasnya.
Lanjut Roziq, harga solar yang kemudian naik hingga mencapai Rp. 220 ribu perjergen 20 liter yang dijual para pengencer solar, dari yang biasanya hanya mencapai Rp 125 ribu per jeriken 20 liter.
"Sehingga banyak masyarakat terutama yang berprofesi sebagai nelayan merasa keberatan dan menjerit dengan adanya kenaikan tersebut. Apalagi sampai tidak mau turun melaut, dikarenakan cos operasional yang sangat tinggi," bebernya.
Pihak pemerintah, dalam hal ini Bupati, DPRD dan Dinas Perindag Kabupaten Wakatobi, Roziq mempertanyakan, kenapa hanya bungkam dan seolah tidak ada permasalahan yang terjadi di daerah. Serta sama sekali tidak ada pengawasan terhadap APMS dan kepada penjual pengencer solar yang menaikan harga solar dengan melambung sangat tinggi.
"Kasihan rakyat nelayan yang saat ini, perahu mereka berhamburan di pesisir pantai dan tidak difungsikan lagi akibat kelangkaan BBM serta mencuatnya harga solar pada penjual enceran. Jika begini terus, kira-kira mau makan apa anak istri para nelayan di wilayah Kepulauan wangi-wangi," oceh roziq arifin dalam orasinya di depan kantor Bupati.
Tambah Roziq, ratusan masyarakat yang datang hari ini adalah masyarakat yang benar-benar sengsara dan meminta belas kasihan Pemkab Wakatobi untuk membentuk Tim khusus (Timsus) gabungan yang terdiri dari Polri, Pol PP dan pemerintah melalui Dinas Perindag agar kemudian melakukan pengawasan kepada pihak APMS yang nakal. Serta memberikan jaminan agar harga BBM yang saat ini naik menjadi turun bahkan bisa stabil dari harga Rp 220 per jeriken menjadi Rp 125 ribu.
"Kami menganggap naiknya solar saat ini sudah sangat keterlaluan dan akan mematikan mata pencaharian para masyarakat nelayan. Kami juga menduga semua mobil yang selalu lalu lalang tengah malam diatas jam 00.00 Wita dari APMS yang berada di Desa Waelumu Kecamatan Wangi-wangi dan datang mengambil solar terindikasikan tidak mengantongin izin pengangkutan dan izin penyimpanan BBM serta terjadi penimbunan BBM, yang berimbas pada tidak terbaginya suplai BBM kepada masyarakat nelayan," teriak roziq penuh selidik.
Roziq menambahkan, dalam regulasi UUD 1945 dalam Pasal 33 Ayat 3 sangat jelas bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
"Nah, BBM jenis Solar juga merupakan kekayaan alam yang harus kemudian di pergunakan sebesar besarkan untuk kemakmuran masyarakat, oleh sebab itu APMS itu ada dikarena dengan kebutuhan masyarakat nelayan di sekitarnya dan semata mata untuk kesejahteraan masyarakat," umpatnya. (M4)