Wakatobi 15 Tahun, Bupati H. Arhawi Membangun

WAKATOBI bukan hanya milik Indonesia, tapi juga dunia. Bagaimana kiat Bupati H. Arhawi menata daerahnya? Berikut petikan wawancara wartawan Buton Pos, Irwansyah Amunu kepada duet Ilmiati Daud tersebut di Rujabnya, belum lama ini.
---Di tangan bapak, pembangunan Wakatobi sampai di mana?
Daerah ini harus dibangun secara estafet, Pak Hugua dua periode dan kemudian di periode terakhirnya saya menjadi wakilnya. Tentu daerah ini akan melihat progresnya apabila dari kepemimpinan-kepemimpinan tetap bersinergi tertutama program yang selama ini memang sudah diniatkan oleh pemimpin dan masyarakatnya. Terutama Wakatobi sebagai daerah pariwisata kemudian di dalamnya sektor perikanan tetap menjadi unggulan.
Nah, pada 2016 setelah saya mendapat mandat dari masyarakat maka dari dua leading sektor itu saya tambah bagaimana memahami kultur masyarakat yang selama ini turun-temurun, menjadi daerah dimana perdagangan antar pulau penting untuk diperhatikan pemerintah. Sehingga visi daerah ini dari surga nyata bawah laut kita bawa menjadi bagaimana kita harus jadikan menjadi kabupaten maritim yang sejahtera dan berdaya saing.
Alasannya, bahwa Wakatobi 1,36 juta kilometer, tiga persennya darat. Sehingga konsentrasi pembangunan sekarang tetap masih memaksimalkan di sektor perikanan dan kelautan termasuk di dalamnya potensi bawah laut Wakatobi yang memiliki keunikan, ragam, dan jenis ikan yang selama ini telah kita proklamirkan.
Nah, dari niat besar 10 tahun dan di dalamnya lima tahun saya bersama-sama dengan Pak Hugua sangat tidak elok kalau apa yang telah diletakkan 10 tahun putus. Karena saya memahami betul tentang bagaimana cita-cita bersama membangun daerah ini yang di dalamnya kekuatan kita yang terbesar di laut.
Bagaimana kekuatan ini tetap didorong, gali, dan bahkan angkat agar mudah-mudahan potensi ini
bisa kita persembahkan untuk kesejahteraan masyarakat Wakatobi. Kesejahteraan ini sebetulnya tidak mudah didapat karena banyak hal yang harus kita persiapkan di daerah. Terutama bagaimana sumber daya manusianya saat daerah ini kita proklamirkan menjadi destinasi pariwisata.
Sehingga penting persiapan sumber daya manusia agar memiliki daya saing.
Kemudian dalam waktu bersamaan, karena daerah ini sudah diletakkan 10 tahun oleh Pak Hugua dan di dalamnya bersama-sama dengan saya, maka saya melanjutkan, sehingga daerah ini telah mendapatkan pengakuan dari Kementerian Parwisata menjadi salah satu daerah dari 100 daerah yang sudah masuk dalam kalender iven nasional.
Pengakuan itu sebetulnya lahir juga dari penetapan Presiden Indonesia menjadi salah satu dari 10 top destinasi pariwisata nasional. Sehingga daerah ini juga telah kita ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata menjadi satu daerah yang memiliki kalender iven setiap tahunnya. Dan kegiatan ini sebetulnya telah disupport oleh
Kementerian Pariwisata dan daerah ini sudah merupakan bagian dari Indoensia yang harus didorong dipromasikan menjadi salah satu destinasi di Indonesia.
Kemudian daerah ini Saya kira juga kita butuh setelah menjadi salah satu destinasi pariwisata nasional, tentu masyarakatnya juga harus punya filter yang kuat terhadap berbagai budaya yang akan masuk ke daerah. Sehingga pemerintah pun memiliki program untuk bagaimana daerah ini tetap terjaga dan terpelihara eksistensinya terhadap agama yang dianut selama ini.
Sehingga walaupun sudah terbuka untuk siapa Wakatobi ini, maka diharapkan masyarakatnya tetap tidak terpengaruh dari budaya luar. Sehingga ada program kita di dalamnya bagaimana harus memperkuat tempat-tempat pengajian Alquran di seluruh wilayah Wakatobi. Dan sudah kita lakukan, disetiap lingkungan diharapkan ada tempat pengajian Alquran dibiayai Pemda untuk melakukan kerja-kerja sosial agar mencerdaskan anak kita terhadap baca Alquran.
Kebijakan ini juga diikuti dengan keputusan bupati agar anak-anak kita yang masuk di setiap jenjang pendidikan paling tidak sudah memahami baca Alquran.
Demikian juga beberapa program lainnya seperti memberikan penghargaan terhadap para umat yang mengabdikan diri di kegiatan-kegiatan Islam ini baik majelis taklim atau kita percaya mengajarkan anak-anak kita mengajarkan Alquran, diseleksi untuk diumrahkan setiap tahun 50 orang.
Sehingga diharapkan daerah ini walaupun sudah menjadi milik dunia, tetapi nilai Islam dan budaya dalam rangka mendukung pariwisata tetap digali, dijaga, dipertahakan, bahkan setiap tahun kita adakan iven di setiap pulau, dan puncaknya di Wakatobi Wave, kemarin.
Sebetulnya itu adalah akumulasi dari beberapa budaya yang dimiliki empat pulau ini, misalnya Tari Balumpa,
Sajo Moane, Lariangi dari Kaledupa, kemudian Wangiwangi dengan Kansoda dan Lengko-nya, adalah sesuatu potensi budaya yang memiliki keragaman. Meski wilayahnya kecil tapi sangat luar biasa daerah ini dibanding dengan beberapa daerah lainnya.
Kadang-kadang luas wilayahnya begitu besar tapi tidak memiliki keragaman budaya seperti di Wakatobi. Inilah sebetulnya menjadi kekuatan, disamping potensi bawah laut yang kita miliki.
Kemudian daerah ini telah mendapatkan pengakuan dari Unesco untuk menjadi salah satu cagar biosfer dunia. Sehingga positioning Wakatobi sangat luar biasa terhadap berbagai usaha terhadap bagaimana daerah yang sudah masuk di taman nasional, dan pengakuan Unesco. Kita menjaganya dengan melakukan berbagai program untuk menjaga daerah ini terutama ihwal lingkungan, sampah, dan lainnya merupakan prioritas yang harus didorong pemerintah. Sehingga nama Wakatobi yang cukup tersohor ini mudah-mudahan dari segala aspek sudah kita persembahkan dan memiliki nilai bahwa ternyata pantaslah Wakatobi dijadikan salah satu top
destinasi pariwisata nasional.
---Jadi luar biasa, bapak diberi amanah bukan saja sebagai kepala daerah, tapi juga memenuhi tanggung jawab dan kepercayaan dunia?
Ya, sangat luar biasa, karena Wakatobi ini setelah ditetapkan pemerintah pusat dan Unesco sudah mengakuinya, sebetulnya bukan milik masyarakat Wakatobi lagi tapi masyarakat dunia.
Sehingga pengelolaan dan pengendaliannya sudah lebih komprehensif agar mudah-mudahan beberapa
pengakuan dari pemerintah pusat dan dunia, insya Allah bisa kita jaga dan pelihara.
---Bagaimana dengan daya dukung infrastruktur?
Seperti yang saya sampaikan tadi bahwa saya mendampingi Pak Hugua sebagai wakil bupati, saya
pahami bahwa 10 tahun Wakatobi menjadi daerah otonom yang sudah dipimpin bupati definitif.
Langkah pertama memang dari potensi yang kita miliki kalau kita tidak angkat dan promososikan
maka daerah ini tidak akan memiliki nilai apa-apa. Sehingga dengan terpromosianya daerah ini
dan sudah dikenal Indonesia dan dunia, maka kewajiban saya selanjutnya yang melanjutkan ini
bagaimana harus mengisi berbagai kekosongan yang belum terisi selama 10 tahun.
Yang paling penting saya lihat bagaimana penataan infrastruktur daerah, dengan luas
wilayah tiga persen darat. Karena bisa saja kalau peletakannya tidak tepat, maka potensi
yang kita miliki tidak akan memiliki nilai apa-apa.
Pertama saya dilantik, saya melaksanakakan kerjasama dengan Universitas Hasanuddin untuk
menghadirkan berbagai ahli agar memotret daerah ini. Dan bagaimana harus terdesain detail
ruangnya agar keterbatasan wilayah bisa diatur sedemikian rupa agar pemanfaatan berbagai lahan
yang sangat terbatas, insya Allah bisa ditata dan dikelola secara maksimal sehingga tidak
saling bersinggungan dan melemahkan apa yang sudah kita miliki hari ini.
Katakan daerah ini butuh sebuah kawasan untuk serapan air yang tinggal didalamnya, itu juga
sudah terdesain dan ter-ploting. Sehingga beberapa kawasan yang sudah ter-ploting kita
jaga agar tidak dijadikan pemukiman atau tempat-tempat pengembangan baru. Khususnya
kawasan yang ketika investor hadir maka tidak akan terganggu lagi kawasan yang ter-ploting
itu.
Bahwa kita butuh parawisata yang sifatnya massif, tapi tetap juga kita perhatikan beban
daerah ini, agar insya Allah tidak terganggu dengan berbagai usaha yang kita lakukan di
daerah ini. Sehingga kita juga harus lebih selektif melihat investor yang masuk untuk
menanamkan modal berinvestasi di bidang pariwisata, sehingga mudah-mudahan kerja keras
yang kita lakukan dan mulai kita mem-ploting beberapa kawasan yang di-ploting, itulah yang
akan kita arahkan untuk pengembangan ke depan.
---Salah satunya mungkin bisa dijelaskan pembangunan kantor bupati yang mulai dikerjakan
tahun ini?
Kantor bupati kenapa penting harus kita bangun, karena memang perubahan dari PP 41 ke PP 18
tentang perubahan struktur pemerintah daerah. Kemudian di dalamnya ada rencana aksi yang sudah
kita lakukan dengan KPK untuk bagaimana kita memberikan Tukin (tunjungan kinerja) kepada
aparatur sipil negara, maka ini juga harus kita menyesuikan dengan kebutuhan sarana dan
prasarana perkantoran. Katakan di PP 18 setelah kita kaji tentang Anjab (analisis jabatan) ternyata fasilitas hari ini tidak bisa menampung lagi. Sehingga kebijakannya kita harus membangn
perkantoran baru untuk menyesuaikan kebutuhan struktur organisasi pemerintahan ini.
---Bagaimana dengan koneksivitas empat pulau di Wakatobi pada masa pemerintahan bapak?
Sudah sampai dimana kemajuannya?
Karena daerah ini kita bawa pada daerah maritim sehingga beberapa infrastruktur di empat pulau
ini harus terpenuhi. Usaha kita harus merangkai empat pulau ini menjadi satu kesatuan yang
di dalamanya keinginan kita menghadirkan transportasi yang terintegrasi.
Alhamdulillah 2018 Pemda telah mendapatkan alokasi anggaran Rp 5 miliar, sebagai langkah awal untuk memulai pembangunanya. Dan rembes terakhir Dermaga Feri
di Pulau Kaledupa 2019 teralokasi Rp 21 miliar, dan diharapkan Dermaga Feri Kaledupa tuntas 2019.
Demikian juga dengan Pulau Tomia dan Binongko kita sudah mulai tahun ini dan rilis
terakhir anggarannya telah terploting Rp 5 miliar untuk Pulau Tomia dan Rp 5 miliar untuk
Binongko. Diharapkan 2020 feri yang menghubungkan empat pulau ini fasilitasnya sudah
terbangun semua.
----Aksesibilitas sudah lancar semua?
Ya, jadi diharapkan memang dermaga feri tuntas 2020, paling lambat 2021 sudah akan selesai, dan
mudah-mudahan sudah bisa operasi juga kapalnya. Karena kemarin saat saya audiensi dengan Menteri
Perhubungan sudah menyampaikan bahwa sebetulnya bukan fasilitas dermaganya, termasuk perencaan
armadanya juga sudah menyiapkan sehingga bisa beroperasi tahun 2021.
Nah keinginannya, sebetulnya bukan hanya semata-mata membingkai empat pulau di Wakatobi,
tapi Pemerintah Pusat memiliki rencana besar agar masyarakat Wakatobi yang ada di Flores
ketika dermaga feri ini sudah terbangun maka Kementerian Perhubungan akan mengintervensi agar
ada ASDP yang dari Flores masuk ke Wakatobi, kemudian di daratan Lasalimu, dan terakhir akan
conect, jalan.
---Berarti sudah lintas propinsi?
Sudah lintas propinsi, insya Allah.
---Bicara Wakatobi tidak hanya Wangiwangi, tapi juga sampai di ujung bisa terkoneksi.
Ya, ada usaha-usaha lain sebetulnya yang membutuhkan energi, terutama Pulau Binongko yang
didalamnya kadang-kadang kita terbentur dengan alokasi anggaran yang bersumber dari APBN atau
DAK yang selama ini kita perjuangkan. DAK punya kriteria karena walaupun di dalamnya ada
kekhususan, tapi terdapat pertimbangan ekonomis yang dilihat pemerintah pusat untuk
mengalokasikan ke daerah-daerah tertentu.
Bahwa DAK punya regulasi untuk diperuntukkan dibeberapa kabupaten, Binongko katakan tidak
tersentuh. Tapi kita akan upayakan agar sisa DAJ bisa kita alokasikan untuk membangun infrastruktur disana.
---Bagaimana dengan progres listrik dan air bersih?
Program pemerintah pusat untuk menuntaskan air bersih terutama di 10 destinasi ini, tuntas
tahun 2019. 2018 ini khusus untuk ibukota ini hampir semua jaringan perpipaan untuk masuk di
kawasan pemukiman masyarakat sudah terlintasi pipa air bersih, dan sebagian wilayah ini
alhamdulllah masyarakat sudah terlayani air bersih dari PDAM.
Nah 2017 kemarin kita mendapatkan alokasi anggaran sekitar Rp 17 miliar untuk bantuan
instalasi perpipaan dan tahun ini ditambahkan lagi menjadi Rp 30 miliar lebih. Program ini
sebetulnya di dalamnya ada sharing pendanaan dengan Pemda untuk memberikan sambungan secara
gratis kepada masyarakat, dan sudah kita alokasikan lewat APBD. Sehingga ketika terpasang
maka dengan sendirinya anggaran akan kembali lagi ke daerah.
Tahun ini telah disurvei juga di Kaledupa bahkan sampai Binongko diharapkan 2019, 2020 khusus
untuk fasilitas air bersih telah teraolaksi lewat APBN, insya Allah sudah tuntas di Wakatobi.
--Bagaimana dengan listrik?
Listrik sedikit pelit juga urusannya, bahkan walaupun pelit, saya pun tidak akan mundur
terhadap berbagai persoalan terutama terhadap listrik. Kita juga telah berjuang dan 2018 ini,
Pulau Tomia sudah bisa menyala dari 12 jam menjadi 24 jam. Kemudian tahun ini akan upayakan
agar Kaledupa sudah bisa hadir genset berskalabesar dan mudah-mudahan sudah akan menyal
sampai 24 jam.
Disamping usaha-usaha ini saya pun juga sudah bersurat ke Kementerian ESDM agar menjadi
perhatian di kementerian, agar semua wilayah ini mudah-mudahan tidak ada kendala lagi dengan
masalah listrik. Karena alasannya sangat kuat, 10 destinasi dan setiap pelaku ekonomi
pariwisata mau invest pariwisata di daerah rata-rata yang menjadi evaluasi pertama adalah
listrik.
Sehingga ketika daerah ini sudah mendapatkan pengakuan dari negara, menjadi 10 top destinasi
nasional, maka diharapkan semua fasilitas ini sudah harus terbangun di daerah. Termasuk
Kementarian Pariwisata juga telah mendorong agar Badan Otoritas Pariwisata (BOP) di daerah bisa
segera mungkin keluar Perpresnya agar semua kesulitan, dan fasilitas yang diharapkan
terbangun untuk mendukung pariwasata Wakatobi cepat ditangani pemerintah pusat.
---Jadi BOP ini diupayakan secepatnya?
Kita sudah progres. Bahkan kemarin pak Sekda dan Dinas Pariwisata telah melihat kembali draft
Perpres yang telah diajukan Kemenko Maritim untuk dilihat kembali agar ketika Perpres ini
diteken presiden maka mudah-mudahan tidak ada kendala lagi. Dan Kementerian Pariwisata sudah
menjanjikan paling lambat awal 2019 presiden sudah akan teken Perpres.
---Apa berkah BOP yang bisa dipetik Pemda dan masyarakat?
Badan Otoritas ini sebetulnya adalah sebuah kebijakan yang dilakukan presiden untuk
mendorong perkembangan daerah. Bukan hanya satu aspek saja, tapi banyak, karena diharapkan
penetapan 10 destinasi ini jawaban kejenuhan orang datang di Bali, dan ada alternatif lain
dikunjungi pecinta pariwisata, sehingga infrastrukturnya harus didorong dan dibangun
agar target 2019 di kepemimpinan Bapak Presiden ini sudah tertangani semua kebutuhannya.
Sehingga saya optimis ketika BOP sudah diteken presiden maka semua aspek sudah terbangun dengan
cepat.
---Bagaimana teknik bapak dalam menggerakkan sektor ril di masyarakat. Karena di tengah
kondisi lesunya ekonomi seperti ini, Wakatobi beda?
Sebetulnya tidak ada yang luar biasa, semua ini sebenarnya bergerak secara dinamis, bahwa saya
selaku Bupati Wakatobi setiap tahun hanya mengevaluasi. Dari hasil rilis BPS sejauh mana
kira-kira naik turunnya dari sebuah kebijakan yang telah kita lakukan setiap tahun. Jadi
katakan tahun 2017 naiknya angka pertumbuhan hanya satu dua digit, apa yang menyebabkan
lambat tingkat pertumbuhan ekonomi Wakatobi? Dari segi kebijakan yang kita lakukan lewat APBD
apa yang salah. Saya evaluasi total.
Lalu kemudian ternyata uang Wakatobi masih banyak mengalir ke luar, dibanding terbelanjakan
di dalam daerah, sehingga kebijakannya juga mulai saya rubah. Bahwa kita harus perbanyak di
dalam daerah sehingga dinamika ekonomi dalam daerah bisa berkembang dan tumbuh. Dan memang
tahun ini pasti berbeda dengan tahun sebelumnya.
Kemudian saya juga selalu menginstruksikan kepada seluruh jajaran organisasi perangkat
daerah (OPD) agar melihat celah dimana kira-kira kebijakan yang telah kita lakukan belum banyak
menyentuh para pelaku ekonomi daerah. Sehingga ada kebijakan lain juga yang harus saya lakukan
disetiap OPD. Katakan untuk transportasi dan perhotelan di daerah ini kalau mau tumbuh dan
berkembang yang harus disentuh dari kebijakan Pemda, maka harus ada intervensi melakukan
berbagai kegiatan di Binongko, Tomia, dan Kaledupa. Salah satunya efek dari iven yang kita
laksanakan disetiap pulau. Ini juga merupakan bagian dari kebijakan untuk menyentuh para
pelaku ekonomi di daerah ini agar mudah-mudahan dengan itu mereka bisa merasakan dampak kegiatan
pembangunan di daerah.
---Apa hal strategis yang diambil untuk tahun depan agar dinamika Wakatobi lebih kuat lagi?
Kita tetap mengevaluasi dari setiap kebijakan yang kita lakukan setiap tahun. Mimpi saya
sebetulnya tahun depan, disamping usaha-usaha yang telah kita lakukan, dan memang ada yang
berbeda yang kita lakukan. Kalau selama ini ada rencana daerah yang sifatnya sedikit pesimis,
tapi saya mengatakan bahwa perencanaan daerah harus optimis. Tergantung dari pusat akan
menilai kita dan kita akan diberikan berapa, bahwa PR harus dibangun cukup banyak. Apalagi
daerah ini sudah menjadi perhatian pemerintah pusat bahwa semua aspek yang butuh untuk
disentuh harus masuk dalam RKPD Pemda untuk didorong ke Pemprov, dan Pemerintah Pusat
mudah-mudahan ada kebijakan dari berbagai usulan yang kita lakukan setiap tahun.
Pada 2019 diharapkan dari program kita, khususnya di pelayanan dasar, bidang kesehatan
diharapkan semua fasilitasnya sudah terbangun. Kita tahun depan sekitar Rp 70 miliar lebih
teralokasi dari Kemenkes untuk memperbaiki fasilitas kesehatan. Karena memang beralasan,
kita tetap berharap bahwa masyarakat Wakatobi, 100 persen sudah memagang kartu kesehatan lewat
BPJS agar bisa memudahkan masyarakat beropat di tempat layanan yang sudah bekerjasama dengan BPJS.
Ini sangat luar biasa.
Kesehatannya sudah kita berikan, pendidikan anak-anak kita berikan bantuan agar mereka tidak putus sekolah. Kita sudah umrahkan. Dan dari fasilitas pribadi saya, terutama kapal dari Wanci ke Kendari,atau bahkan dimana saja yang ada fasilitas pribadi saya, terutama transportasi laut, saya berikan keringanan 50
persen bagi warga Wakatobi. Sehingga saya berpikir tinggal apa lagi yang harus saya perbuat.
---Artinya rakyat merasakan kehadiran pemerintah ketika dibutuhkan?
Isnya Allah, kalau semua ini kita sudah persembahkan kepada masyarakat, dan kita sudah
bekerja untuk melakukan beberapa loncatan untuk mempercepat proses pembangunan di daerah,
termasuk fasilitas pribadi saya berikan, terserah masyarakat yang akan menilai.
---Terakhir, apa harapan bapak kepada masyarakat?
Saya merasa bangga dan berterimakasih kepada masyarakat saya di Wakatobi, semua usaha dan
kegiatan yang kita lakukan dan beberapa capaian yang kita raih, ini sebetulnya adalah usaha dan
kerja keras masyarakat yang sudah memahami bagaimana pentingnya daerah ini untuk kita
dorong menjadi sebuah daerah pariwisata dan didalamnya bagaimana kesiapan masyarakat kita
untuk menerima berbagai urusan dan budaya yang masuk ke daerah ini. Sehingga budaya dan potensi
bawah lautnya, kita sudah mulai memahami sesuatu yang sangat berharga dan harus dijaga.
Dan harus sama-sama bekerja untuk mendorong semua ini, karena hadirnya beberapa alokasi
anggaran yang besar ke daerah ini, sebetulnya bukan hanya kerja saya selaku bupati dan seluruh
OPD-nya tapi di dalamnya juga ada dukungan masyarakat untuk memahami bagaimana pentingnya
daerah ini untuk menjadikannya sebagai daerah pariwisata. (**)