Kronologis SEDARAH, Kumpul di Eks MTQ Caos di DPRD
Bagikan

Bentrokan antara pengunjuk rasa dan aparat Kepolisian yang terjadi pada 26 September di DPRD Sultra banyak menelan korban. Selain, Randy dan Muhamad Yusuf yang meninggal akibat insiden September Berdarah (SEDARAH) itu, ternyata masih ada korban lainnya yang menjalani perawatan di Rumah Sakit (RS).
Laporan, Sunaryo, Muna
Salah seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) yang tengah hamil bernama Putri Yulia, diduga terkena peluru nyasar. Lalu, Irsan, mahasiswa Fakultas Teknik Mesin UHO sesak napas akibat gas air mata. Kasat Intelkam Polres Kendari, IPTU Nursaji mengalami luka pada bagian pelipis mata bagian kiri akibat terkena pukulan dari pengunjuk rasa. Selain itu, La Ali, program pendidikan vokasi (D3) UHO sesak nafas akibat menghirup gas air mata.
Aksi unjuk rasa menolak revisi UU KPK, RUU KUHP, revisi ketenagakerjaan dan kenaikan BPJS bermula sekira pukul 11.00 Wita, ribuan gabungan elemen mahasiswa dari Perguran Tingi Negeri dan Swasta se-Kota Kendari kumpul di lokasi eks MTQ. Selanjutnya setiap Koordinator Lapangan (Korlap) melakukan orasi dengan tuntutan menolak revisi UU KPK, RUU KUHP, revisi ketenagakerjaan dan kenaikan BPJS ketenagakerjaan. Setelah itu mereka menuju gedung DPRD Sultra di Jalan Tebaununggu.
Pukul 13.00 Wita, terjadi caos antara pengunjuk rasa dengan aparat Kepolisian Polda Sultra yang diduga adanya lempar batu dari arah pengunjuk rasa. Kantor DPRD dan Pos Lalu Lintas Polres Kendari di perempatan lampu merah MTQ dibakar massa aksi. Setelah para korban dilarikan di RS, pukul 16.00 Wita situasi mulai kondusif. Hingga pukul 16.57 Wita, pungunjuk rasa masih bertahan di seputar kantor DPRD. Tak lama berselang, mereka membubarkan diri dan berjanji kembali akan turun dengan kekuatan yang lebih besar.
Kini kedua pahlawan demokrasi itu telah istirahat dengan tenang di alam bakah. Ucapan belasungkawa pun datang dari Bupati Muna, LM Rusman Emba. "Saya selaku pribadi dan bupati turut berduka cita atas meninggalnya dua pahlawan demokrasi itu, semoga keduanya husnul khotimah," ungkapnya.
Pria yang kerap disapa RE itu menyampaikan agar keluarga korban diberi ketabahan atas inseden itu. Menurutnya, kejadian itu bukan diminta-minta, tapi bagian dari takdir Allah SWT. "Mereka akan tecatat dalam titah sejarah sebagai pejuang yang memperjuangkan kepentingan rakyat Indonesia," katanya.
Ada lagi dari kalangan anggota DPRD Muna yang mengutuk keras insiden SEDARAH itu. "Kami sangat mengutuk keras tindakan itu dan harus segera diusut tuntas," tegas Awaluddin, Ketua Fraksi PAN dalam pandangan fraksinya.
Koleganya, La Irwan juga mendesak aparat untuk menuntaskan kasus penembakan itu dalam waktu 2 x 24 jam, sehingga persoalan itu tidak melebar luas. "Harus cepat. Penyidikanya juga harus terbuka, jangan ada ditutup-tutupi," kata politisi Hanura itu.
La Irwan yang juga berasal dari Kabawo ikut berbelasungkawa atas insiden September Berdarah (Sedarah) itu. Apalagi, salah satu korbannya, Yusuf satu kampungnya. "Saya sangat bersedih atas meninggalnya dua putra terbaik Muna, semoga mereka husnul khotimah," pungkas mantan Dewan Penasehat BEM Fisip UHO itu. (cr1)