Disparekraf Wakatobi Keciprat DAK Rp 14 Miliar
Bagikan
PUBLIKSATU, WAKATOBI - Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Kabupaten Wakatobi, keciprat Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik senilai Rp 14 miliar lebih.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negera (APBN) tahun 2020 ini untuk kegiatan apa?
"Pertama untuk pembuatan mooring buoy. Jadi, sebenarnya untuk menjawab kebutuhan pelayanan kegiatan selam, sekaligus mengatasi persoalan resiko terhadap kerusakan lingkungan di Wakatobi. Misalnya, ada yang mau diving tapi bootnya angker dikarang, kita fasilitasi dengan mooring buoy ini," tutur Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Dispareakraf) Wakatobi, Nadar belum lama ini.
Mooring buoy ini juga kata Nadar, bisa dimamfaatkan untuk tambat labuh kapal-kapal Living On Board (LOB) yang masuk ke Wakatobi.
Untuk membangun Dermaga floating jety wisata di Pulau Hoga, Kaledupa. "Karena di wangi-wangi sudah ada, Tomia sudah ada, di tahun 2020 ini kita prioritaskan untuk pembuatan Dermaga wisata di Hoga, konsepnya juga sama dengan yang sudah ada, dia floating jety," imbuhnya.
Disamping itu, sambung Nadar, termasuk pembuatan bangunan dan perlengkapan dive center di Pulau Tomia dan Binongko. "karena kalau di Wanci (pusat pemerintahan Wakatobi) sudah ada, di Pulau Hoga (Kaledupa) juga sudah ada. Nah, di tahun 2020 ini, kita harapkan juga bisa menjangkau Tomia dan Binongko," tungkasnya.
Lewat DAK fisik bidang pariwisata tahun 2020 ini juga, Pemkab Wakatobi akan memfasilitasi wisatawan dengan speed catamaran sebanyak empat unit. Hal ini memungkinkan wisatawan yang ke Wakatobi, bisa menikmati keindahan laut Wakatobi, meski tidak diving.
Dan yang terakhir, untuk peningkatan beberapa objek wisata di Wakatobi yang sudah ada. Seperti di Sombu Dive, penataan akses wisata pantai Hoga, melengkapi fasilitas perlengkapan areal Dermaga wisata Tomia.
Kemudian di Binongko di pantai onemelangka. "Di onemelangka itu karena ada pantainya yang abrasi, mungkin kita akan buatkan pengaman pantai yang nilai estetikanya dapat, kemudian yang kedua, resiko abrasinya, dan yang ketiga kita tidak merusak lingkungan," tutup Nadar. (m5)