Kemarau, Jadi Ancaman Kekurangan Stok Makan Warga Wakontu
Bagikan

PUBLIKSATU, LAWORO-Kemarau panjang yang melanda wilayah Kabupaten Muna Barat (Mubar) beberapa bulan terakhir ini mulai dirasakan oleh masyarakat, khusunya para petani atau pekebun. Rata-rata mereka mengeluhkan kondisi alam yang begitu panas.
Baca Juga: Darma Lelepadang Sayangkan Nama Lakipadada di Pelataran Rujab Gubernur Diubah Pj Gubernur Bahtiar
Halnya terjadi kepada para petani jagung dan kacang di Desa Wakontu, Kecamatan Wadaga, Kabupaten Mubar. Mereka terus menanti akan datangnya hujan agar dapat bercocok tanam. Semenjak memasuki musim kemarau tidak ada lagi aktifitas pertanian.
"Aktifitas pertanian sudah tidak berjalan dengan baik. Sejak musim kemarau melanda, tidak ada kegiatan yang dapat menambah hasil pendapatan. Harusnya Oktober hingga memasuki November ini sudah dua kali memanen hasil,"ungkap, La Ode Biasa, salah seorang petani jagung dan kacang.
Kering kerontongan serta tanah tandus, begitulah kondisi lahan perkebunan para petani jagung dan kacang di Desa Wakontu masa kini. Mereka terus berharap datangnya musim hujan agar dapat kembali bercocok tanam demi kelangsungan hidup.
Baca Juga: Bawaslu Dorong Banyak Pemuda Untuk Jadi Pengawas Partisipatif
"Sejak dulu para petani disini hanya menyandarkan harapan dari hasil-hasil kebun seperti jagung dan kacang demi mempertahankan kelangsungan hidup. Namun sekitar kurang lebih 5 bulan ini tidak ada kegiatan pertanian,"ujarnya.
Kondisi perekonomian pun mulai melemah karena tidak ada pemasukan. Pera petani dari desa itu mengaku tidak ada yang bisa dijual dipasar-pasar tradisional seperti sediakala. Biasanya mereka menjual hasil kebun berupa kacang dan jagung dipasar untuk pembeli lauk pauk.
"Sekarang tidak ada yang bisa dijual. Para petani tidak berani menjual jagung. Karena stok makanan perlahan-lahan mulai berkurang. Kekhawatiran terjadinya kekurangan makanan pasti ada. Jika musim kemarau masih berlanjut 1 hingga 2 bulan kedepan, dipastikan akan ada masyarakat yang kekurangan stok makanan,"ucapnya.
Baca Juga: Ahmad Basarah Sebut Gibran Bukan Lagi Kader PDIP
Agar dapat membantu ketersediaan makanan, sebagian diantara mereka mencari ubi hutan yang dalam bahasa daerah Muna (Kolope). Jenis tumbuhan liar itu diolah agar bisa menjadi makanan tambahan bagi masyarakat.
"Sebagian masyarakat sudah mulai mengolah ubi hutan (Kolope) untuk membantu stok makanan. Mereka menggali ubi hutan itu, kemudian diolah untuk menjadi makanan,"katanya.
Peliput: La Gola