Sultra

Sentuhan 23 Tahun Lalu, Amirul: Menjemput Masa Depan

Oleh Redaksi · Rabu, 7 Oktober 2026 20:14 WIB · 6 menit baca
Bagikan
Sentuhan 23 Tahun Lalu, Amirul: Menjemput Masa Depan
MASA DEPAN: Senator Sultra, Dr H MZ Amirul Tamim punya tips untuk merancang masa depan.(Foto: IST)

KRISIS listrik pernah dialami Kota Baubau, namun di tangan Dr H Mz Amirul Tamim, persoalan tersebut selesai. Setelah dua dekade pascamenjabat wali kota, kini krisis listrik dialami Pulau Sulawesi, namun Baubau dan sekitarnya tidak.

Apa rahasianya hingga solusi yang diambil 23 tahun lalu, masih relate dengan hari ini dan masa depan? Berikut petikan wawancara Pemred Publiksatu, Irwansyah Amunu bersama anggota DPD RI, Dr H MZ Amirul Tamim.

Menarik tadi Bapak katakan, soal tidak tumbuh, kemudian rekayasa baru dan misi atau mimpi yang tidak realistis. Nah saya mau mengitkannya dengan persoalan hari ini terkait krisis listrik di wilayah Sulawesi. Kemudian BBM termasuk gas, rupanya tidak terjadi disini. Dulu ketika Bapak menjadi wali kota ini jadi problem. Tapi dengan sentuhan yang tepat, pada akhirnya ini menjadi masa depan. Sebaliknya tidak kita merasakan seperti yang terjadi di Pulau Sulawesi.

Ya, sebenarnya kita sama, cuman mungkin ada keunggulan sedikit. Justru itu, beberapa tahun lalu, kita sudah berpikir.

Kita ingat dulu, Baubau sampai kita semua harus beli genset di rumah. Karena PLN tidak bisa melayani. Kemudian terminal-terminal SPBU tidak bisa memberikan layanan.

Untuk itu, pada waktu itu kita berjuang. Ketika ada programnya Pertamina membuat terminal BBM, kita menjemput dengan berbagai tawaran-tawaran kemudahan dan kita mendukung. Dengan berbagai dukungan sampai bagaimana mencarikan tanah, tidak ada calo dan lain sebagainya. Sehingga alhamdulillah terminal BBM dibangun di sini.

Dampak dengan itu, alhamdulillah memberikan pengaruh yang tidak kecil terhadap bagaimana daerah ini dalam melayani dirinya. Kemudian, kita pernah meletakkan kawasan power plant di Kolese. Membebaskan tanah sehingga bisa digunakan untuk pembangkit listrik di sana.

Dengan konsep masa depan. Sehingga PLN bukan lagi di Kaobula yang bunyi. Itu langkah-langkah jauh yang kita siapkan untuk menjemput masa depan.

Walaupun dengan tantangan yang tidak sedikit. Bagaimana kita menolak (Pelabuhan) Finger dulu. Untuk tetap ada ruang publik. Bagaimana kita membangun titik Lakologuo.

Untuk nanti menghubungi semua titik sampai dengan power plant, sampai dengan kota satelit, sampai dengan jembatan Buton-Muna dan lain sebagainya. Kita sudah berpikir bahwa kita ibu kota provinsi pada waktu itu. Walaupun statusnya administrasi kota, tapi cara berpikirnya bahwa kita ibu kota provinsi.

Sehingga langkah yang kita buat masa lalu, ternyata punya efek positif di masa kini.

Itu 23 tahun yang lalu.

Itu 23 tahun yang lalu.

Bisa menjawab persoalan hari ini.

Menjawab persoalan hari ini. Begitulah harusnya cara berpikir kita.

Berarti cara berpikirnya tidak boleh pragmatis Pak ya?

Tidak boleh pragmatis.

Harus jangka panjang.

Jangka panjang. Jadi kalau kita ingin jauh melangkah, jangan melihat hanya jembatan di depanmu. Tapi kau lihat dulu untuk tujuan yang jauh di sana. Apakah saya perlu naik sepeda, berlari, atau bagaimana kita melompat lebih jauh untuk di sana.

Tantangan pasti ada. Jadi kalau kita hanya bekerja mulus, jangan harap kita bisa berbuat. Rasulullah saja, utusan Tuhan tantangan yang dikabarkan sama kita ternyata tidak semudah itu. Apalagi kita ini hanya SK Menteri.

Apa yang Bapak mau sampaikan kepada stakeholder yang saat ini sedang mengampu jalannya pemerintahan. Sehingga bapak mengambil langkah 23 tahun lalu, tapi justru hari ini menjadi berkah bagi kita yang ada sekarang.

Ya, kita memimpin hari ini, atau siapa saja yang ada ikut periode hari ini, baik itu masyarakat, stakeholder, apa saja. Kita bukan bagian untuk hari ini, tapi kita adalah bagian yang hari ini untuk mempersiapkan hari esok. Sehingga hari esok, kita masih ada di hari esok untuk mengajak lagi untuk membuat hari esok yang selanjutnya.

Sehingga kita tetap ada di hari ini. Itulah yang harusnya kita berpikir bersama. Jangan kita berpikir bahwa, ah kita buat ini karena kita tidak ada atau bersifat proyeksisasi.

Yang penting proyek sudah saya kerjakan. Mau bermanfaat atau tidak, itu urusan lain. Salah cara berpikir begitu. Baik itu masyarakat dan lain sebagainya.

Tapi yang dari awal saya katakan, mari kita lihat Sulawesi Tenggara hari ini secara utuh. Kita melihat faktanya kita ada sebagian daratan, ada dua pulau besar, yaitu Pulau Muna dan Pulau Buton.

Dan di Pulau Muna ada enam dermaga feri. Kemudian dermaga feri yang enam saya kira bukan kebetulan dia hadir. Tapi ada tuntutan kebutuhan ruang yang perlu didekati.

Dengan enam feri. Tapi kalau kita sadar, mungkin tidak ada di dunia ada pulau yang enam dermaga ferinya. Itu yang harus kita lihat, ada hikmah tersendiri.

Kemudian disebaran titik-titik wilayah selisih negara ada berbagai potensi. Selain potensi tambang, tapi ada potensi-potensi di bidang pertanian. Sejarah panjangnya, kita dulu pelabuhan pengirim kopra.

Kopra dari Poleang, dari Kaledupa, dari Mawasangka, dari berbagai titik. Kemudian Gersamata melahirkan ada kakao, cengkih, dan lain sebagainya. Kemudian dari pesisir laut ikan asin dikirim ke sana.

Sampai sekarang berbagai komoditas-komoditas, kita punya kapal kargo peti kemas yang masuk di Baubau. Bisa sebentar dengan biaya yang lebih murah.

Setelah itu harus kita berpikir yang turun dari kargo Baubau itu bisa diangkut dengan truk. Kalau perlu sampai di Bombana sana, demikian juga sebaliknya Bombana lewat Tondasi masuk disini. Saya bilang kalau perlu jangan hanya tiga kali seminggu. Harusnya setiap hari supaya masyarakat ada kepastian.

Bahwa kalau saya kumpul hari ini, besok saya bisa bawa, karena besok ada feri ke sana. Jangan setiap tiga hari, apalagi belum tentu berlayar. Jadi harus ada kepastian.

Pemerintah harus hadir untuk itu. Jangan selalu coba-coba.

Diujung ini kira-kira apa pesan yang Bapak mau sampaikan kepada masyarakat dengan kondisi saat ini di tengah keprihatinan, efisiensi anggaran, tapi kita harus bergerak maju.

Yang pertama bahwa manusia tetap membutuhkan makan, minum, pelengkapan, dan lain sebagainya.

Kemudian yang kedua, teknologi semakin maju. Mempermudah sekaligus memberi tantangan baru. Tetapi apapun yang dipikirkan, kita tetap berada pada satu titik pijak dimana kita berada.

Indonesia baru 81 tahun. Mimpi besarnya Indonesia emas tahun 2045, 100 tahun.

Tersisa 19 tahun, bukan waktu yang lama untuk kita wujudkan. Tentu langkah konkret sudah harus kita bijaksanai.

Mana yang harus kita perbuat dalam keterbatasan ini.

Sementara potensi gambaran dinamika kawasan kita tidak hanya berbasis wilayah administratif. Kita ada gugus-gugus yang mengajarkan kepada kita bahwa perjalanan masa lalu mencerminkan dinamika masa depan.

Itu yang perlu dikonsolidasi, dirawat, dan dioptimalkan. Karena dunia luar disana juga membutuhkan barang yang kita miliki disini yang kita perlu antar kesana. Demikian juga barang yang ada disana yang diperlukan untuk kita antar kesini.

Dinamika adalah peluang. Jangan kita lihat sebagai tantangan. Tetapi setiap rantai-rantai penghubung, yang menghubungkan dan memenuhi kebutuhan kita adalah potensi dinamika yang kita bisa manaje sebagai peluang-peluang untuk menata masa depan.(Selesai)

Bagikan