Buton

La Bakry Harap Warga Asing di Buton Aman dari Corona

Oleh Redaksi Publiksatu / Kasim · Rabu, 5 Februari 2020 00:24 WIB · 4 menit baca
Bagikan
La Bakry Harap Warga Asing di Buton Aman dari Corona
ilustrasi virus corona

PUBLIKSATU, BUTON-Bupati Buton, La Bakry berharap tenaga kerja asing (TKA) China yang bekerja di Perusahaan Kartika Prima Abadi, Desa Suandala, Kecamatan Lasalimu bebas dari virus corona.

La Bakry mengakui ada sejumlah TKA China bekerja di daerah tersebut. Untuk mencegah ke khawatiran warga setempat, tentu hal itu menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan untuk kemudian berkoordinasi bersama pihak terkait.

"Iya mereka bekerja di sana, tentu dinas kesehatan suda berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait. Kita berharap sih mereka aman-aman saja," ujar dia kepada sejumlah wartawan di gedung Wakaka usai membuka pelaksanaan ujian CPNS beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kesehatan Buton, H. Djufri.D mengaku belum mengetahui keberadaan tenaga kerja asing di perusahaan itu. Secarah teknis merupakan kewenangan Dinas Tenaga Kerja.

Olehnya itu, kata dia pihaknya hanya melakukan penyuluhan kepada warga agar mewaspadai penyakit corona. Pasalnya, virus penyakit itu telah menjadi isu global yang berasal dari China.

"Koordinasikan dengan Kadis Tenaga kerja. Kita hanya dengar laporan dari mereka, kita hanya melakukan suatu penyuluhan kepada warga itu agar mereka waspada terhadap penyakit corona ini. Karena secarah global ini kita melihat asal penyakit ini dari cina sana dari daerah mereka," ujar dia saat di jumpai publiksatu.co diruang kerjanya, gedung B, lantai 1, kompleks perkatan pemkan Buton, Senin (3/2/2020).

Lanjut, menurut Djufri, meski marak di China, namun ia yakin tidak semua warga di negara itu terinfeksi virus corona. Meski behgitu, pihak harus tetap waspada terkait keberadaan warga asing itu.

"Olehnya itu, kita di negara Indonesia ini di Kabupaten Buton atau pun di Sulawesi Tenggara ini memang tetap kita melakukan kewaspadaan. Agar penyakit tersebut bisa kita tau. Bisa di deteksi," ujarnya.

"Tentunya dalam hal ini dari kementrian kesehatan melakukan tindakan kewaspadaan dan setiap warga negara yang di curigai dari asing itu harus ada baik didalam itu mereka misalnya dari negara China artinya sasarannya ke Jakarta melalui transportasi bandara itu suda ada pencegahan-pencegahan. Suda ada dari kementrian suda ada tugas. Bahkan mentri kesehatan dia terjun kelapangan," imbuhnya

Tidak hanya itu, Djufri menjelaskan sejauh ini terkait pekeberadaan warga asing di desa Suandala pihak belum mendapatkan laporan dari Dinas Tenaga Kerja sebagai instansi yang berhak mengetahui keberadaan mereka.

Ia mengaku, andai ada laporan, pihaknya bersama dinas terkait akan mengunjungi untuk dimintai keterangan.

"Tentunya dalam hal ini kami sebagai petugas kesehatan kami lakukan investigasi dalam artian kita kunjungi, dimana keberadaan meraka dan bisa kami ambil data dari Ketenagakerjaan. Kapan mereka datang melalui apa, lewat mana dan berapa jumlahnya laki-laki, perapa jumlahnya perempuan, berapa jumlahnya anak-anak dan berapa jumlahnya remaja. Itu harus. Kita buat data tersendiri sebagai penyelidikan. Artinya sebagai laporan. Secarah kronologisnya seperti itu," ujarnya.

"Saya selaku kepala dinas memerintahkan yang membidangi ini, kepala bidang P2 penyakit. Dibawahnya ada kepala bidang pengendalian penyakit, ada kepala bidang survei lens dan pengamatan penyakit. Survei lens dan imuniasasi kami perintahkan itu. Kalau memang ada laporan, selama ini belum ada laporan," sambungnya.

Untuk di ketahui, seperti di beritakan sebelumnya, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Buton, La Subu menyikapi pernyataan Kantor Imigrasi Kelas III Non TPI Kota Baubau yang menyebutkan sepanjang tahun 2019-2020 warga Cina yang ada di wilayah kerjanya hanya tercatat delapan orang.

Padahal, kata dia, berdasarkan fakta dilapangan, jumlah warga Cina untuk di Kabupaten Buton diketahui ada sekira 20 orang. Mereka sebagai tenaga ahli di perusahaan Kartika Prima Abadi di Desa Suandala, Kecamatan Lasalimu.

“Di perusahaan KPA ada sekitar 20 orang,” ujar dia kepada publiksatu.co melalui sambungan telepon, Jumat (31/1/2020).

La Subu yang juga warga Desa Suandala itu menjelaskan seharusnya instansi terkait bisa mendeteksi keberadan mereka. Terlebih ditengah kekawatiran warga akan wabah Virus corona yang melanda warga cina.

Kata dia dengan adanya WNA itu potensi virus akan menulari masyarakat sekitar sangat dimungkinkan.

Olehnya itu, ia berharap Imigrasi, Dinas Tenaga kerja bersama kesehatan Kabupaten Buton melakukan penininjauan dan pemeriksaan kesehatan agar menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Apa lagi, kedatangan para tenaga kerja asing itu di Kabupaten Buton tidak menentu.

“Hanya memang menghindari yang lagi gencar-gencar ini kiranya dinas kesehatan Kabupaten Buton melakukan koordinasi dengan pihak Imigrasi dengan untuk melakukan kesehatan khusus kepada tenaga asing itu,” ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Berdasarkan data resmi Kantor Imigrasi Kelas III Non TPI Kota Baubau, sepanjang tahun 2019-2020 jumlah tenaga kerja Warga Negara Asing (WNA) asal China berjumlah delapan orang.

Sebagaimana diungkap Kepala Imigrasi kelas III Baubau Teguh Santoso, dari 8 daerah cakupan wilayah kerja seperti Baubau, Kabupaten Buton, Muna, Butur, Buteng, Busel dan Wakatobi hanya 8 WNA.

“Dari 8 daerah wilayah kerja kami, untuk Kota Baubau sejauh ini belum ada tenaga kerja WNA asal China,” kata Tegu saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (28/01).

Tegu masih tergolong baru menjabat sebagai Kepala Imigrasi kelas III Non TPI Baubau, sebelumnya sebagai kepala seksi lalulintas keimigrasian Kantor Imigrasi Kendari.

Hingga berita ini di terbitkan, wartawan Publiksatu belum bisa meminta tanggapan pihak terkait. Baik Imigrasi Baubau maupun Dinas Tenaga Kerja Buton. (Cro2)

Bagikan