Buton

Visi-Misi Umar-Bakry Menjadikan Buton Kawasan Bisnis dan Budaya Terdepan Tunjukan Tanda Keberhasilan

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Senin, 28 Desember 2020 01:46 WIB · 2 menit baca
Bagikan
Visi-Misi Umar-Bakry Menjadikan Buton Kawasan Bisnis dan Budaya Terdepan Tunjukan Tanda Keberhasilan

PUBLIKSATU, BUTON - Bupati Buton, La Bakry membeberkan kinerjanya selama menjabat. Hal ini ia ungkapkan saat menghadiri pesta adat di Desa Waoleona, Kecamatan Lasalimu, Sabtu (26/12/2020).

Bupati menjelaskan pemerintah kabupaten terus konsisten dalam mewujudkan visi dan misi Umar-Bakry yakni menjadikan Buton sebagai kawasan bisnis dan budaya terdepan. Ia menjelaskan konsistensi dalam mewujudkan visi dan misi itu, telah menunjukan tanda-tanda keberhasilan.

"Insyaallah selama 10 tahun. Dari 2012 sampai dengan 2022. Insyaallah kita tetap konsisten kita laksanakan. Konsistensi itu Insyaallah telah menunjukan tanda-tanda keberhasilannya," ujar dia.

Di bidang budaya misalnya. Bupati menjelaskan, dahulu masyarakat Kabupaten Buton sedikit malu mengenakan pakaian adat Buton. Seperti Kampurui. Ikat kepala khas Buton. Namun, setelah tujuh tahun berturut-turut pemerintah Kabupaten Buton melaksanakan festival Budaya Tua Buton. Budaya Buton pun saat ini muncul kembali.

"Dulu kita pake kampurui begini kita malu-malu. Bahkan tidak pernah kita laksanakan. Setelah kurang lebih tujuh kali berturut-turut kita laksanakan Festival Budaya Tua Buton atas inisiatif pemerintah daerah, Bupati waktu itu, pak Samsu Umar Abdul Samiun dan semua kemudian pakaian adat kita yang dulu tidak tampak, sekarang muncul," ucapnya.

Selain pakain adat, Pemkab Buton juga menggelorakan nilai-nilai budaya Buton. Menurutnya, nilai dan falsafah budaya Buton bersifat universal dan dapat diterima semua umat. Olehnya itu, La Bakry mengajak masyarakat Buton untuk bangga menjadi orang Buton.

"Terus menggelorakan yang namanya budaya Buton, budaya Buton itu, saya katakan budaya universal. Nilai-nilainya, falsafahnya semua universal. Hanya memang dalam bahasa Buton. Tetapi kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sesungguhnya kita tidak perlu malu dan rendah diri. Tetapi kita patut bangga, karena dari dahulu kita, masa lalu telah mewariskan budaya kita yang lebih tinggi dan universal," ujarnya.

Bagikan